Arsip Blog

Sabtu, 01 November 2014

kisah Me_Ji_Ku_Hi_Bi_Ni_U

Ini sekedar cerita remeh yang sempat aku tulis dulu.


Rumahku Kota Mati

Di siang yang redup, hentakkan kakiku terus mendorongku tuk mencari cari laundry yang buka. Jejakanku terkadang tersendat kala abu tebal ataupun kubangan air menjebakku. Kulihat di sekelilingku Nampak seperti kota mati. Abu berserakan dimana mana, hingga rumah, mobil, dan semua barang yang ada di jalan tertutupi oleh abu. Aku terus menelusuri  jalanan aspal, mencari dan mencari tempat laundry yang buka. Aku sempat kesal, karena semua tempat laundry yang kujumpai ternyata tutup. Sesekali, aku juga semakin kesal karena angin yang datang menyeok abu, aku pun sesekali kekelipan karenanya…

Siang ini, tak lebih parah dari pada tadi pagi. Karena tepat setelah aku terbangun dari tidurku, kira kira jam 4 pagi, temanku keluar rumah dan tiba tiba tas yang ia bawa terkena percikkan dan rintikkan abu. Setelah itu, Ummi Aeni keluar dari kamarnya, ia menjelaskan bahwa kejadian tadi menggambarkan suatu kejadian fenomena alam yaitu hujan abu dari letusan Gunung Kelud di Kediri. Aku pun terkaget kaget mendengarnya dan langsung bersegera mengambil slayer dan langsung menuju sekolah.

Ketika aku mulai mengikatkan slayer ke hidungku, seketika aku merasa nafasku kurang enak dan slayernya pun berbau aneh. Ini mungkin terjadi, karena aku tak terbiasa memakai slayer. Aku pun melepaskan slayer dari ikatannya dan menyimpannya di saku kecil jilbabku. Aku berjalan kembali sambil menutupi hidungku dengan kerudung. Namun sesekali aku sering membukanya kembali.

Tak berapa lama, satu persatu langkahku telah menyampaikanku pada tempat tujuanku, yaitu sekolah. Nampak teras depan sekolahku sedikit ditutupi abu. Aku pun segera melepaskan sandal yang melekat di kakiku dan seketika aku pun langsung masuk ke sekolahku untuk sholat shubuh. Aku merasa tak nyaman saat itu dengan kaus kakiku, lalu aku mengangkat kaki danmelihatnya, ternyata kaus kaki yang asalnya berwarna hitam berubah menjadi warna putih.
 
Dendang suara iqomat pun terdengar, aku pun langsung merapikan barisanku dengan orang disampingku. Setelah usai sholat, Abah Yoyok pun langsung membuka forum pengumuman. Di dalam forum itu, Abah memberi pengumuman bahwa kelas 7 dan 8 diberi tugas pagi ini untuk mencari abu. Nantinya abu ini akan digunakan untuk percobaan. Kami pun bergegas keluar. Ternyata, di luar sana, hujan abu turun lumayan deras, tapi semangat yang terus membara di diri kami, mengalahkan kekhawatiran dan resiko itu. Kami pun mengambil abu abu, baik yang ada di daun, ataupun di jalanan aspal. Hujan kian turun deras dan Abah memerintahkan untuk mengakhiri pekerjaan tersebut dan menyuruh kami pulang. Sebelum itu, kami ke sekolah terlebih dahulu untuk mengambil tas. Kegiatan mengumpulkan abu, melelahkan dan membuat jilbab dan kerudung sekaligus tas menjadi kotor karena abu. Ditambah lagi, cucianku yang menumpuk, lalu rumah yang ketutupan abu, membuat aku susah untuk mencuci, jadi aku memutuskan untuk laundry.

Aku melihat ke jam, ternyata sudah jam 8 pagi, tapi matahari tak kunjung dating. Sehingga pagi ini terasa seperti jam 6 pagi. Aku pun buru buru masak, karena takut akan terlambat masuk sekolah. Di tengah kekhawatiran belum makan dan mandi, Abah member tahu bahwa hari ini libur. Kami pun teriak senang kegirangan. Rumahku memiliki sebuah ruang pembatas yang itu tak ada atapnya. Abu pun masuk ke kamar lagi. Ruang ini juga kami gunakan untuk pergi ke tempat satu dengan lainnya, setiap kami melewatinya, abu mengenai rambut kami dan itu membuat rambut kami keras seperti sapu ijuk. Hujan abu pun reda, dan turunlah hujan seperti biasanya, namun tetap saja, hujan ini bercampur dengan abu. Belum lagi, abu yang berserakan itu pasti akan menjadi lumpur lumpur yang lembek ketika turun hujan. Namun sekiranya, ini lebih baik dari tadi pagi.




----------------------------------------------



                     EKONOMI MASYARAKAT SUROLOYO


Suroloyo adalah sebuah perbukitan tinggi di wilayah Kulonprogo, Yogyakarta.  Dengan ketinggian 1050 mdpl juga iklim pegunungan tropis menjadikan Suroloyo sebagai lahan berbagai tanaman, terutama tanaman yang cocok hidup di iklim dingin ini, seperti teh, kopi, cengkeh dan kopi. Maka otomatis, dengan sumber daya alam yang melimpah, masyarakat sekitar pegunungan Suroloyo memanfaatkannya sebagai salah satu industry yang menghasilkan nilai harga jual yang tinggi.

Pemanfaatan sumber daya alam Suroloyo ini jumlahnya banyak, seperti: pembuatan minyak atsiri, pembuatan kopi suroloyo, pembuatan teh  suroloyo, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, santri putri Taruna Panatagama pada tanggal 17-18 September 2014 mengunjungi industri industri tersebut: 

1.   Industri Kopi Suroloyo

Sejak tahun 2000, Pak Windarso beserta keluarganya telah mengenali kopi Suroloyo, Mereka menggunakan cara yang tradisional agar dapat menikmati kopi Suroloyo, yaitu dengan memasaknya memakai wajan. Setelah sekian lama mengamati pola kerja petani kopi Suroloyo, Pak Windarso dengan teman temannya merasa petani kopi Suroloyo tidak dihargai. Harga jual kopi Suroloyo yang khas itu hanya bernilai Rp.20.000 saja per kilonya. 


kopi suroloyo
Maka di tahun 2009, petani petani yang melakukan usaha secara individu bergabung bersama Pak Windarso dan teman temannya menjadi sebuah kelompok, yaitu kelompok tani.  Masyarakat Kulonprogo sekitar bukit Suroloyo umumnya memiliki pohon kopi. Dengan lahan yang mereka miliki setiap anggotanya, mereka mulai menjalani usaha kopi Suroloyo. Lahan tersebut mereka gunakan sebagai modal pertama, lalu mereka olah sendiri dan jual sendiri. Lalu keuntungan dari penjualan kopi mereka gunakan kembali untuk modal selanjutnya. Dan di tahun 2011, mereka mengajukan proposal kepada pemerintah dengan beratasnamakan kelompok tani. Dan akhirnya pemerintah memberi sejumlah alat.

Kopi Suroloyo memiliki 2 jenis, yaitu robusta dan arabika. Arabika lebih banyak diminati karena keasamannya yang lebih rendah dan kafeinnya yang rendah membuat penikmatnya terasa lebih fresh karena tidak membuat rasa kantuk. Sedangkan robusta memiliki rasa yang lebih pahit dan sama sama mengurangi rasa kantuk. Tanaman kopi Suroloyo juga dipanen 1 kali 1 tahun selama 3 bulan.

Pak Windarso bersama ketujuh temannya menggunakan biji kopi pilihan, yaitu berwarna merah yang mereka beli Rp.4500 per kilonya dari petani kopi. Namun, seringkali mereka mendapatkan biji kopi yang hijau, karena petani yang kepepet ingin segera mendapatkan uang.

Setelah mendapatkan kopi, dimulailah proses proses pembuatan kopi bubuk Suroloyo. Kopi yang memiliki 3 lapisan, yaitu kulit ceri, kulit cangakang dan kulit ari lalu baru dagingnya, dihilangkan kulit cerinya menggunakan alat giling. Setelah itu, biji kopi direndam selam 12 jam dan setiap 3 jam sekali  air diganti. Tujuan dari perendaman ini adalah mengurangi keasaman dari kopi tersebut. Perendaman dilanjutkan dengan penjemuran di bawah sinar matahari selama 5 hari. 

Setelah kering, biji kopi diimbuh selam 2 bulan. Tujuannya adalah menstabilisasi dan menetralisir khasiat kopi tersebut. Lalu, biji kopi tersebut digiling kembali untuk menghilangkan kulit cangkang dan kulit arinya.. Pemprosesan pun dilanjutkan dengan memilah kopi yang bagus dan yang tidak bagus karena cacat.      


my poetry



ILMU

Ku tempuh liku menggapaimu
Ku kerahkan segala tenagaku
Ku kerahkan pula segala kemampuanku
Demi menggapaimu
                                    Betapa anggun perangaimu
                                    Hingga kau hempaskan bumi ini
                                    Dengan helaan nafas nafas ilmu

Dan pada saat itulah
Beribu manusia berlari menggapaimu
Dan bepuluh puluh ribu manusia sibuk menanganimu

                                    Tanpamu…..
                                    Ku takkan mengenal seisi jagad raya ini
                                    Dunia telah putus dari hidupku
                                    Ku ratapi segalanya dengan keheningan
                                    Ku berada dalam jurang kegelapn
                                    Yang menenggelamkanku dalam keheningan
Namun….
Kau muncul dalm hidupku
Kau tampakkan keindahanmu
Walau kau takkan pernah menampakkan wajahmu
                                  Denganmu….
                                  Ku mengenal segalanya
                                  Dan denganmu ku mengenal siapa penciptaku

Jumat, 31 Oktober 2014

abdi_eksperimen

 


1. Green House

Ketika sekolahku mengadakan proyek membuat greenhouse, aku langsung terinspirasi dan sepulangnya di rumah, dengan sergapnya aku mencari ide sekaligus bahan yang ada di sekitar rumah, yg dapat dijadikan greenhouse mini. Aku pun menemui rak sepatu kayu yang tak terpakai. Dengan segera aku membersihkan rak kayu tersebut dari gumpalan dan buiran debu yang menghalanginya.

Setelah terlihat bersih (kinclongg..) aku menutupi rak sepatu dengan sambungan sambungan plastik tidak terpakai. Barulah setelah itu, meluncur membeli polybag dan tanah. Untuk tanamannya, menggunakan tanaman yang tumbuh di halaman rumah, yaitu, cabe. Dan inilah , greenhouse mininya….



Tapi, karena ditinggal pergi dan tidak ada yang mengurusi tanaman di greenhouse mini, akhirnya tanamannya mati. Setelah itu, akupun membuat greenhouse super mini yang hanya terbuat dari botol bekas dan hanya cukup untuk satu tumbuhan saja., Dan ini dia, greenhouse super mininya…



--------------------------------------------



 
    2.  OTESA (Oven Tenaga Surya)


Kehidupan manusia di dunia sangat membutuhkan energi. Bahkan, bisa di katakan manusia tidak dapat hidup tanpa adanya energi. Energi listrik merupakan salah satu energi terbesar yang di gunakan oleh manusia pada saat ini, dimana keberadaan listrik saat ini sangat tergantung oleh keberadaan bahan bakar alam, seperti premium dan batu bara.


Kamis, 30 Oktober 2014

kisah ketangguhan




Kisah Seorang Pedagang Tangguh


Diantara banyaknya pedagang yang berjajar di Pasar Bantengan, ada hal yang unik sekaligus menginspirasi dari pedagang yang satu ini. Pengalaman merupakan senjata ampuhnya untuk mencari nafkah, sekaligus menjadi pelajaran tambahan baginya untuk melangkah terus mencapai kesuksesan. Ia adalah seorang bapak bapak yang bernama Bapak Nurwiyanto yang berasal dari Berbah,Sleman. Kini usianya sudah menginjak 43 tahun. Dan hampir setengah hidupnya ia gunakan untuk berdagang. Namun, hingga kini ia belum mampu bersaing di kelas tinggi. Profesinya kini hanyalah seorang pedagang pinggir jalan yang hanya mampu berdoa agar kelak iamampu menggapai kesuksesan. Namun tak apalah, jalani sajalah hidup ini dengan ikhlas, biar Allah yang membalasnya kelak.

 Kini, hidupnya hanya bergantung pada penjualan sayurnya. Apabila ramai, kebutuhannya pun bisa tercukupi. Namun jika sepi, ia pun harus memutar balik keuangannya. Sebelum menjadi pedagang sayur pinggir jalan, ia sempat mengalami bangkrut. Ketika itu, ia hanyalah seorang penjual krupuk dan kripik yang hanya mengambil sedikit sekali keuntungan. Karena keuntungan dari hasil menjual kripik dan krupuk sangatlah sedikit, ia pun kebingungan untuk menafkahi keluarganya. Akhirnya, ia pun mengadu nasib di Pasar Bantengan ini sejak umur 25 tahun, dan hingga hari ini. Setelah berada di Pasar Baantengan ini, ia dan keluarganya pun bisa mengandalkan berjualan sayur sebagai mata pencahariannya sehari hari.

Memang mudah berjualan itu jika lokasinya bisa ditempuh dengan cepat. Namun ia harus pergi pagi pagi ke pasar karena jarak yang cukup jauh. Belum lagi ia pun harus membeli barang yang akan dijualnya. Mungkin, sejak tadi malam ia tidak tidur karena harus membeli barang belanjaan.

Sungguh, ia terlihat ceria ketika  kutemui. Hampir tak ada rasa penat sedikitpun yang tampak padanya. Bahkan tak ada rasa capek pun yang tersirat dalam dirinya. Waaw..benar benar seorang pedagang tangguh!!!


-------------------------------------------

Meraih Ridha dan Surga-Nya

Dengan perlahan, aku pun meniti langkahku ke masjid. Ternyata, hanya 3 langkah saja.. Aku pun dengan temanku Miftah langsung mendendangkan salah satu lirik lagu “Lima langkah..dari rumah…” Namun liriknya sengaja kami ganti menjadi “Tiga langkah…dari rumah..” begitu mendapatkan hasil fantastis pengamatan mii kami ‘mengukur langkah dari rumah kami menujui masjid Al Muttaqin’. Sontak aku pun teringat akan nenek bungkuk yang dengan kekurangannya dan rumahnya yang mungkin lebih jauh berpuluh puluh kali lipat dari rumah kami.. 

Di shubuh yang tentram, dengan ngantuknya aku pun terkulai lemah menapakkan kakiku terus menerus ke masjid. Mendekati iqoat dikumandangkan, nenek itu masuk ke area shaf wanita dengan lemahnya, namun tetap menampakkan wajah semangat. Di sudut matanya, tak ada sedikitpun guratan mengantuk dan lelah.. 

Berpakaikan sehelai kebaya lusuh dan rok jarik, dengan ditutupi oleh sehelai mukena sambung butut kusam dan sehelai sejadah beralaskan wara merah, ia pun masih mau melaksanakan sholat di Masjid tanpa malu mendengar komentar dan tatapan jijik orang lain terhadapnya. Begitu datang, ia gelarkan sejadah merah itu dan melepaskan gulungan mukena yang sebelumnya digulung ketika menuju masjid. Tanpa basa basi, dengan gerakan duduk, ia pun langsung menggemakan takbir shalat rawatib dalam hatinya.

Iqomat pun dikumandangkan dengan merdunya.. Nenek yang berparas bungkuk itu tetap melanjutkan sholat rawatib di shaf kedua itu dengan khusuknya tanpa ada guratan kecemasan di wajahnya. Setelah usai mengerjakan sholat sunnah tersebut, ia tertatih berjalan ke shaf pertama. Nenek tersebut menggelarkansejadhnya kembali ke arah samping, ternyata akulah orang di samping nenek itu yang mendapat jatah sejadahnya itu. 

Gerakan sholat pun beraih ke ruku, imam pun menandainya dengan diberhentikannya bacaan surat., nenek tersebut jua mengikuti gerakan itu sama halnya dengan jamaah lainnya. Namun aku terkaget ketika mendengar suara ‘kreeek..’ yang tak lain bersumber dari nenek bungkuk. Dalam hatiku pun berkata ‘Apa mungkin tulang nenek patah???.. Dalam setiap gerakannya pun, nenek bungkuk adalah orang yang terakhir kali melakukan gerakan itu…,, pasti ia menyimpan beribu skit yang tertahankan….’


Usai berdzikir dan berdoa, Masjid Al Muttaqin rutin mengadakan tausiyah singkat… Dihari awal awal, aku melihat nenek ini, ia selalu rajin mendengarkannya, namun akhir akhir ini entah mengapanenek ini selalu pulang lebih awal, padahal pengajian tausiyah belum usai. Dengan langkah yang terbata bata, ia pun pergi menuju rumahnya.. Karena tidak tega, ibu ibu dan bapak bapak yang berada di belakangnya enggan menyusul nenek itu dan tetap mengikuti langkahnya hingga di pntu luar.


Suatu malam, sehabis berbelanja cobek, aku melintasi jalnan dekat pasar yang biasanya pedagang tersebut ada anjing yang sering menggonggong. Aku yang ketika itu berjalan bersama kakak kelasku Kak Fani menyampaikan rasa takut aku.. Namun ia malah menceritakan keberanian nenek bungkuk yang ternyata tempat tinggalnyaberada di gang itu. Aku pun merasa mengaku kalah dari nenek bungkuk itu.. Rumahnya terbilang memprihatinkan, terlihat tidak terurus dan jaraknya jauh dari Al Muttaqin bila ditempuh dengan jalan kaki, yah kira kira membutuhkan waktu 10 menit.

Perlakuan nenek tersebut membuatku malu dan menyadarkanku betapa banyak orang yang memiliki banyak kekurangan dan justru dengan kekurangan itu membuatnya semakin termotivasi untuk melakukan amal ibadah dan banyak bersyukur kepada Allah, seperti halnya nenek bungkuk itu.. Dengan segala kekurangan dan semangat melaksanakan ibadah yang tinggi, semoga bisa menghantarkan nenek bunkuk pada Surga-Nya dan Ridho-Nya.. Sungguh nenek tersebut telah melaksanakan perintah Allah yang dikutip dalam surat Al Imram ayat 133.


menengok kehidupan mereka



Nasib Petani Imogiri

Dalam sesuap nasi yang kita makan, menyimpan sejuta kisah pengabdian yang mengharukan,  terutama bagi para petani di wilayah Imogiri Yogyakarta. Wilayah yang masih asri dengan rerimbunan padi dan pemandangan bukit hijau yang sudah tak asing lagi. 

Di pagi hari, suara decakan cangkul baik pa tani ataupun bu tani sudah menjadi pemandangan yang tak asing lagi. Apalagi ditambah dengan sejuknyan udara di pagi hari yang semakin menambah eloknya pedesaan ini.

Lahan yang beribu-ribu hektar menghampar luas, tidak menjadikan masyarakat Imogiri memiliki lahan pesawahan tersebut. Namun, kebanyakan mereka hanyalah seorang buruh yang dipekerjakan. Pekerjaan mereka yaitu, menggarap lahan milik orang keturunan ningrat. Bahkan, kepemilikan lahan keturunan ningrat ini masih terus menjajahi wilayah persawahan Imogiri.

Setiap tahun, para petani bisa memanen padi 3 hingga 4 kali. Padi yang mereka kembangbiakan yaitu jenis padi berklas menengah yang harganya pun Rp 8.300,00 per kilonya. Jadi wajar saja, bila wilayah tersebut tidaklah terkenal dalam memproduksi tanaman pangan ini.

Pada masa tanam, para petani mulai menggarap lahan. Tahap pertama yaitu: pemberian pupuk. Pupuk yang digunakan adalah TS dan Urea. Dalam pembelian pupuk, memakai satuan sak, padahal kebutuhan para petani tidak sebanding dengan ukuran itu. Maka dari itu, mereka menilai pupuk-pupuk yang dijual Rp 100.000,- per saknya harganya cukup mahal. Tahap kedua yaitu: dibajak sekaligus digarisi. Dalam membajak lahan, para petani tidak membajaknya sendiri karena tidak memiliki traktor. Jadi, mereka pun terpaksa mengeluarkan uang Rp 127.000,- untuk menggunakan jasa traktor.

Hama pun nyatanya menjadi sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan para petani. Pasalnya, hama tak pernah sekalipun absen dalam mengacaukan pekerjaan petani. Sebagai contoh yaitu hama wereng yang senang menggerogoti akar padi, sehingga padi pun akan cepat rusak bila wereng tersebut tidak segera dibasmi. Maka dengan berat hati, para petani pun membasminya dengan semprotan yang dibeli per botolnya Rp 30.000,-

Di saat daun padi menguning, inilah saat saat dimana para petani bisa segera mendapat uang hasil jerit payah mereka, yaitu masa panen. Namun, bila ingin harga jual lebih tinggi, para petani harus mengolah gabah-gabah yang telah di panen menjadi butiran beras beras, yaitu dengan cara menjemur gabah gabah tersebut sampai kering sekitar 3 hari. 

Ternyata hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan usaha para petani. Karena untuk modalnya saja mereka menghabiskan biaya sekitar 40 % dari pendapatannya sekitar           Rp 675.000,-. Belum lagi, mereka harus menerapkan sistem bagi hasil pada pemilik lahan yang menjadi sebuah perjanjian antara kedua pihak.

Tentunya, dari penelusuran ini, kita bisa membayangkan sendiri bagaimana kesengsaraan para petani kita, yaitu para petani yang menjamin keberlangsungan pasokan pangan rakyat Indonesia. Apalagi, di tambah dengan peran pemerintah yang sangat jarang memberi bantuan bagi para petani kita.
  

---------------------------------------------------------



DIBALIK SEJUTA KEINDAHAN BANSARI

Desa Bansari berada di kecamatan Temanggung, Jawa Tengah. Desa ini merupakan desa teratas yang berada di kaki gunung Sindoro. Wilayah ini sangatlah eksotis dari segi pemandangannya. Di pagi hari udara sangat sejuk, selain itu kita dengan mudah bisa melihat barisan bukit-bukit. Sekaligus pemandangan gunung sumbing dan sindoro yang terlihat lebih dekat dan sangat menawan hanya dengan melihat di atas loteng-loteng rumah penduduk Desa Bansari. 

Dengan kualitas udara yang baik, terutama di musim panas, daerah ini cocok ditanami sayur-sayuran. Bahkan yang sangat terkenal, daerah ini merupakan penghasil tembakau terbesar di Indonesia pada musim panas. Maka dari itu, dengan tanah yang subur, dan segala faktor yang mendukung, menjadikan daerah ini sering disebut daerah holtikultura. Yaitu daerah yang membudidayakan tanaman perkebunan dan persawahan.

EKONOMI PENDUDUK BANSARI
  
Dengan lahan yang cocok untuk ditanami tanaman perkebunan dan persawahan, tak salah lagi, mayoritas masyarakat di sekitar daerah Bansari berprofesi sebagai petani. Selain karena faktor alam, profesi sebagai petani merupakan profesi yang digeluti karena keturunan. Lahan yang begitu luas, tidak menjadikan semua petani memiliki lahan, hanya sebagian saja yang memang memiliki lahan sekaligus menjadi penggarap. Yang lain, sudah tentu, menjadi penggarap.

Di bulan April, seluruh petani di kaki gunung Sindoro serempak menanam tanaman tembakau yang menjadi komoditas utama. Sebagai media tanamnya, mereka menggunakan pupuk alami yang dicampur dengan tambahan pupuk kimia. Pupuk alami yang digunakan adalah pupuk kandang. Pupuk kandang ini tidak diproduksi masyarakat sekitar, jadi otomatis mereka pun harus membeli pupuk di daerah yang memproduksi pupuk kandang, salah satunya adalah Yogya. Para petani membeli pupuk kandang tersebut dalam satuan truk, satu truknya berharga kurang lebih Rp 1.500.000,-. Untuk pupuk kimia, para petani menggunakan set A, TSP, mes,dan urea.

Di bulan pertama, mereka mulai menanam bibit tembakau. Masyarakat setempat sengaja tidak membeli bibit tersebut, melainkan mereka memproduksinya sendiri dari biji bunga tembakau. Hal ini dilakukan untuk menghemat biaya produksi. Coba saja, jika mereka membeli bibit tersebut, yang harganya Rp 60,- per bijinya, maka mereka harus mengleuarkan modal sekitar Rp 240.000,- per hektarnya. Setelah itu, mereka hanya menunggu hingga massa panen, yaitu jika daun tembakau mencapai 4 sampai 5 helai daun.

Belum sampai pada waktu panen, para petani dirundung cobaan yang mengancam tembakau yaitu hama. Hama yang hinggap pada tanaman tembakau ada beberapa macam. Seperti hama yang menggerogoti akar yaitu gasir, dan hama yang menyerang sekaligus menggerogoti daun tembakau, yaitu ulat dan merki. Apa boleh buat, para petani harus membasmi hama tersebut demi keberlangsungan hasil panen, dengan cara melakukan penyemprotan menggunakan insektisida dan pestisida. Para petani pun harus mengeluarkan uang kembali.  
  
Tibalah masa panen tembakau, para petani dengan senangnya menyambut masa tesebut. Pada waktu memanen bagian tembakau yang di ambil adalah bagian daunnya. Namun setelah panen, para petani harus mengolahnya kembali agar bisa dijual. Tahap-tahapnya yaitu: dibawa ke rumah – diimbuh/disimpan sampai daun tembakau matang (sekitar 4 sampai 7 malam) – dirajang kecil-kecil – dijemur sampai kering (sekitar 2 hari). Setelah melakukan proses tersebut, baru para petani dapat menjual tembakau pada tengkulak. 

Harga tembakau yang berkualitas bagus, diberi harga Rp 100-2oo ribu per kilonya. Jika berkualitas biasa-biasa saja diberi harga Rp 50-75 ribu, kalau kualitasnya buruk diberi harga kurang dari Rp 50 ribu. Para petani tidak bisa menawar harga yang telah ditetapkan oleh tengkulak, karena para tengkulaklah yang memiliki modal. Jika mereka menawar, para tengkulak tidak akan membeli tembakau mereka. Dibalik itu juga terdapat sebuah kecurangan, ternyata para tengkulak nyatanya mengurangi harga tembakau yang di tetapkan pabrik, bahkan bisa mencapai 30%.

Ketika para petani telah mendapatkan hasil dari panen tembakau, mereka tidak sepenuhnya dapat menikmati hasilnya. Karena hasil tersebut dibagi 2, setengah untuk keperluan sehari-hari dan setengah lagi untuk modal bertanam sayuran bulan depan.

PENDIDIKAN WARGA BANSARI

Mayoritas para petani tembakau, tidak bisa bersekolah hingga jenjang kuliah. Umumnya, mereka hanya lulusan SD saja. Bahkan kenyataan ini juga, dialami oleh anak anak mereka yang terpaksa putus sekolah karena faktor ekonomi. Sungguh Ironi, dibalik keindahan Bansari ada ketertinggalan masyarakatnya baik ekonomi maupun pendidikan. 


--------------------------------------------



Pasar Bantengan

Pasti kita semua tahu apa itu pasar. Tempat orang orang melakukan aktivitas jual beli, tempat membeli dan menjual segala kebutuhan rumah, dari hal yang sepele seperti, bawang, garam, cabe, wortel, hingga ayam, beras, panic, daging dan lain lain. Wah….banyak sekali jika hrus dituliskan satu per satu, kita mau beli ini, mau beli itu, pasti semuanya ada di pasar. Tak terkecuali dengan Pasar Bantengan ini, semua bahan bahan pokok yang kita butuhkan semua terjejer rapi di meja meja. Kita hanya tinggal memilih bahan bahan yang murah, segar dan yang pasti terjamin aman dikonsumsi.

Maka dari itu, setiap harinya, Pasar Bantengan selalu ramai dikunjungi, kususnya oleh para bu ibu rumah tangga. Namun ada saja hari hari yang biasanya sepi, yakni ketika bahan bahan pokok makanan ataupun sebagainya anjlog tinggi harganya dari harga standarnya. Tapi walaupun begitu tetap ada saja pembeli yang ingin membeli walau tak sebanyak biasanya. Yup, walau bagaimanapun pasar masih menjadi andalan warga sekitar untuk membeli segala kebutuhan.

Namun di sisi lain, ada hal yang membuat problematika masyarakat. Memang, lokasi Pasar Bantengan cukup strategis, yakni di pinggir sepanjang jalan, yang hal itu bisa memudahkan masyarakat yang memakai kendaraan, bisa membeli kebuhannya ketika sedang berperjalanan. Namun karena lokasinya yang berada di pinggir jalanlah yang membuat  pembeli pejalan kaki terlibat dengan motor motor ataupun mobil mobil. Bolak balik harus menyebrang untuk mendapatkan kebutuhan yang diinginkan, jadi rumit juga yaa… Belum lagi jalan yang dilalui berbagai macam kendaraan itu terbilang sempit, jadi sering membuat kemacetan untuk menyebrang.

Selain itu, kondisi pasar yang berada dipinggir jalan membuat sayuran, buah buahan dan bahan makanan lainnya tercemar oleh polusi udara dari berbagai macam kendaraan apalagi motor.. Kondisi ini pula yang memperparah makanan itu, jika hingga sampai ke mulut kita..Ih mengeikan…