Arsip Blog

Kamis, 30 Oktober 2014

menengok kehidupan mereka



Nasib Petani Imogiri

Dalam sesuap nasi yang kita makan, menyimpan sejuta kisah pengabdian yang mengharukan,  terutama bagi para petani di wilayah Imogiri Yogyakarta. Wilayah yang masih asri dengan rerimbunan padi dan pemandangan bukit hijau yang sudah tak asing lagi. 

Di pagi hari, suara decakan cangkul baik pa tani ataupun bu tani sudah menjadi pemandangan yang tak asing lagi. Apalagi ditambah dengan sejuknyan udara di pagi hari yang semakin menambah eloknya pedesaan ini.

Lahan yang beribu-ribu hektar menghampar luas, tidak menjadikan masyarakat Imogiri memiliki lahan pesawahan tersebut. Namun, kebanyakan mereka hanyalah seorang buruh yang dipekerjakan. Pekerjaan mereka yaitu, menggarap lahan milik orang keturunan ningrat. Bahkan, kepemilikan lahan keturunan ningrat ini masih terus menjajahi wilayah persawahan Imogiri.

Setiap tahun, para petani bisa memanen padi 3 hingga 4 kali. Padi yang mereka kembangbiakan yaitu jenis padi berklas menengah yang harganya pun Rp 8.300,00 per kilonya. Jadi wajar saja, bila wilayah tersebut tidaklah terkenal dalam memproduksi tanaman pangan ini.

Pada masa tanam, para petani mulai menggarap lahan. Tahap pertama yaitu: pemberian pupuk. Pupuk yang digunakan adalah TS dan Urea. Dalam pembelian pupuk, memakai satuan sak, padahal kebutuhan para petani tidak sebanding dengan ukuran itu. Maka dari itu, mereka menilai pupuk-pupuk yang dijual Rp 100.000,- per saknya harganya cukup mahal. Tahap kedua yaitu: dibajak sekaligus digarisi. Dalam membajak lahan, para petani tidak membajaknya sendiri karena tidak memiliki traktor. Jadi, mereka pun terpaksa mengeluarkan uang Rp 127.000,- untuk menggunakan jasa traktor.

Hama pun nyatanya menjadi sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan para petani. Pasalnya, hama tak pernah sekalipun absen dalam mengacaukan pekerjaan petani. Sebagai contoh yaitu hama wereng yang senang menggerogoti akar padi, sehingga padi pun akan cepat rusak bila wereng tersebut tidak segera dibasmi. Maka dengan berat hati, para petani pun membasminya dengan semprotan yang dibeli per botolnya Rp 30.000,-

Di saat daun padi menguning, inilah saat saat dimana para petani bisa segera mendapat uang hasil jerit payah mereka, yaitu masa panen. Namun, bila ingin harga jual lebih tinggi, para petani harus mengolah gabah-gabah yang telah di panen menjadi butiran beras beras, yaitu dengan cara menjemur gabah gabah tersebut sampai kering sekitar 3 hari. 

Ternyata hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan usaha para petani. Karena untuk modalnya saja mereka menghabiskan biaya sekitar 40 % dari pendapatannya sekitar           Rp 675.000,-. Belum lagi, mereka harus menerapkan sistem bagi hasil pada pemilik lahan yang menjadi sebuah perjanjian antara kedua pihak.

Tentunya, dari penelusuran ini, kita bisa membayangkan sendiri bagaimana kesengsaraan para petani kita, yaitu para petani yang menjamin keberlangsungan pasokan pangan rakyat Indonesia. Apalagi, di tambah dengan peran pemerintah yang sangat jarang memberi bantuan bagi para petani kita.
  

---------------------------------------------------------



DIBALIK SEJUTA KEINDAHAN BANSARI

Desa Bansari berada di kecamatan Temanggung, Jawa Tengah. Desa ini merupakan desa teratas yang berada di kaki gunung Sindoro. Wilayah ini sangatlah eksotis dari segi pemandangannya. Di pagi hari udara sangat sejuk, selain itu kita dengan mudah bisa melihat barisan bukit-bukit. Sekaligus pemandangan gunung sumbing dan sindoro yang terlihat lebih dekat dan sangat menawan hanya dengan melihat di atas loteng-loteng rumah penduduk Desa Bansari. 

Dengan kualitas udara yang baik, terutama di musim panas, daerah ini cocok ditanami sayur-sayuran. Bahkan yang sangat terkenal, daerah ini merupakan penghasil tembakau terbesar di Indonesia pada musim panas. Maka dari itu, dengan tanah yang subur, dan segala faktor yang mendukung, menjadikan daerah ini sering disebut daerah holtikultura. Yaitu daerah yang membudidayakan tanaman perkebunan dan persawahan.

EKONOMI PENDUDUK BANSARI
  
Dengan lahan yang cocok untuk ditanami tanaman perkebunan dan persawahan, tak salah lagi, mayoritas masyarakat di sekitar daerah Bansari berprofesi sebagai petani. Selain karena faktor alam, profesi sebagai petani merupakan profesi yang digeluti karena keturunan. Lahan yang begitu luas, tidak menjadikan semua petani memiliki lahan, hanya sebagian saja yang memang memiliki lahan sekaligus menjadi penggarap. Yang lain, sudah tentu, menjadi penggarap.

Di bulan April, seluruh petani di kaki gunung Sindoro serempak menanam tanaman tembakau yang menjadi komoditas utama. Sebagai media tanamnya, mereka menggunakan pupuk alami yang dicampur dengan tambahan pupuk kimia. Pupuk alami yang digunakan adalah pupuk kandang. Pupuk kandang ini tidak diproduksi masyarakat sekitar, jadi otomatis mereka pun harus membeli pupuk di daerah yang memproduksi pupuk kandang, salah satunya adalah Yogya. Para petani membeli pupuk kandang tersebut dalam satuan truk, satu truknya berharga kurang lebih Rp 1.500.000,-. Untuk pupuk kimia, para petani menggunakan set A, TSP, mes,dan urea.

Di bulan pertama, mereka mulai menanam bibit tembakau. Masyarakat setempat sengaja tidak membeli bibit tersebut, melainkan mereka memproduksinya sendiri dari biji bunga tembakau. Hal ini dilakukan untuk menghemat biaya produksi. Coba saja, jika mereka membeli bibit tersebut, yang harganya Rp 60,- per bijinya, maka mereka harus mengleuarkan modal sekitar Rp 240.000,- per hektarnya. Setelah itu, mereka hanya menunggu hingga massa panen, yaitu jika daun tembakau mencapai 4 sampai 5 helai daun.

Belum sampai pada waktu panen, para petani dirundung cobaan yang mengancam tembakau yaitu hama. Hama yang hinggap pada tanaman tembakau ada beberapa macam. Seperti hama yang menggerogoti akar yaitu gasir, dan hama yang menyerang sekaligus menggerogoti daun tembakau, yaitu ulat dan merki. Apa boleh buat, para petani harus membasmi hama tersebut demi keberlangsungan hasil panen, dengan cara melakukan penyemprotan menggunakan insektisida dan pestisida. Para petani pun harus mengeluarkan uang kembali.  
  
Tibalah masa panen tembakau, para petani dengan senangnya menyambut masa tesebut. Pada waktu memanen bagian tembakau yang di ambil adalah bagian daunnya. Namun setelah panen, para petani harus mengolahnya kembali agar bisa dijual. Tahap-tahapnya yaitu: dibawa ke rumah – diimbuh/disimpan sampai daun tembakau matang (sekitar 4 sampai 7 malam) – dirajang kecil-kecil – dijemur sampai kering (sekitar 2 hari). Setelah melakukan proses tersebut, baru para petani dapat menjual tembakau pada tengkulak. 

Harga tembakau yang berkualitas bagus, diberi harga Rp 100-2oo ribu per kilonya. Jika berkualitas biasa-biasa saja diberi harga Rp 50-75 ribu, kalau kualitasnya buruk diberi harga kurang dari Rp 50 ribu. Para petani tidak bisa menawar harga yang telah ditetapkan oleh tengkulak, karena para tengkulaklah yang memiliki modal. Jika mereka menawar, para tengkulak tidak akan membeli tembakau mereka. Dibalik itu juga terdapat sebuah kecurangan, ternyata para tengkulak nyatanya mengurangi harga tembakau yang di tetapkan pabrik, bahkan bisa mencapai 30%.

Ketika para petani telah mendapatkan hasil dari panen tembakau, mereka tidak sepenuhnya dapat menikmati hasilnya. Karena hasil tersebut dibagi 2, setengah untuk keperluan sehari-hari dan setengah lagi untuk modal bertanam sayuran bulan depan.

PENDIDIKAN WARGA BANSARI

Mayoritas para petani tembakau, tidak bisa bersekolah hingga jenjang kuliah. Umumnya, mereka hanya lulusan SD saja. Bahkan kenyataan ini juga, dialami oleh anak anak mereka yang terpaksa putus sekolah karena faktor ekonomi. Sungguh Ironi, dibalik keindahan Bansari ada ketertinggalan masyarakatnya baik ekonomi maupun pendidikan. 


--------------------------------------------



Pasar Bantengan

Pasti kita semua tahu apa itu pasar. Tempat orang orang melakukan aktivitas jual beli, tempat membeli dan menjual segala kebutuhan rumah, dari hal yang sepele seperti, bawang, garam, cabe, wortel, hingga ayam, beras, panic, daging dan lain lain. Wah….banyak sekali jika hrus dituliskan satu per satu, kita mau beli ini, mau beli itu, pasti semuanya ada di pasar. Tak terkecuali dengan Pasar Bantengan ini, semua bahan bahan pokok yang kita butuhkan semua terjejer rapi di meja meja. Kita hanya tinggal memilih bahan bahan yang murah, segar dan yang pasti terjamin aman dikonsumsi.

Maka dari itu, setiap harinya, Pasar Bantengan selalu ramai dikunjungi, kususnya oleh para bu ibu rumah tangga. Namun ada saja hari hari yang biasanya sepi, yakni ketika bahan bahan pokok makanan ataupun sebagainya anjlog tinggi harganya dari harga standarnya. Tapi walaupun begitu tetap ada saja pembeli yang ingin membeli walau tak sebanyak biasanya. Yup, walau bagaimanapun pasar masih menjadi andalan warga sekitar untuk membeli segala kebutuhan.

Namun di sisi lain, ada hal yang membuat problematika masyarakat. Memang, lokasi Pasar Bantengan cukup strategis, yakni di pinggir sepanjang jalan, yang hal itu bisa memudahkan masyarakat yang memakai kendaraan, bisa membeli kebuhannya ketika sedang berperjalanan. Namun karena lokasinya yang berada di pinggir jalanlah yang membuat  pembeli pejalan kaki terlibat dengan motor motor ataupun mobil mobil. Bolak balik harus menyebrang untuk mendapatkan kebutuhan yang diinginkan, jadi rumit juga yaa… Belum lagi jalan yang dilalui berbagai macam kendaraan itu terbilang sempit, jadi sering membuat kemacetan untuk menyebrang.

Selain itu, kondisi pasar yang berada dipinggir jalan membuat sayuran, buah buahan dan bahan makanan lainnya tercemar oleh polusi udara dari berbagai macam kendaraan apalagi motor.. Kondisi ini pula yang memperparah makanan itu, jika hingga sampai ke mulut kita..Ih mengeikan…


Namun tetap saja, Pasar Bantengan ini menjadi tujuan favorit ibu rumah tangga walau dengan keadaan yang sedemikian memprihatinkan. Tapi, apa boleh buat, jika kita tetap ingin membeli kebutuhan di Pasar Bantengan ini, carilah penjual yang berada tidak di pinggir jalan. Dengan itu, masih bisa diprediksi bahwa makanan itu tidak tercemar kecuali ada pengaruh lain yang mempengaruhinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar