Arsip Blog

Sabtu, 01 November 2014

kisah Me_Ji_Ku_Hi_Bi_Ni_U

Ini sekedar cerita remeh yang sempat aku tulis dulu.


Rumahku Kota Mati

Di siang yang redup, hentakkan kakiku terus mendorongku tuk mencari cari laundry yang buka. Jejakanku terkadang tersendat kala abu tebal ataupun kubangan air menjebakku. Kulihat di sekelilingku Nampak seperti kota mati. Abu berserakan dimana mana, hingga rumah, mobil, dan semua barang yang ada di jalan tertutupi oleh abu. Aku terus menelusuri  jalanan aspal, mencari dan mencari tempat laundry yang buka. Aku sempat kesal, karena semua tempat laundry yang kujumpai ternyata tutup. Sesekali, aku juga semakin kesal karena angin yang datang menyeok abu, aku pun sesekali kekelipan karenanya…

Siang ini, tak lebih parah dari pada tadi pagi. Karena tepat setelah aku terbangun dari tidurku, kira kira jam 4 pagi, temanku keluar rumah dan tiba tiba tas yang ia bawa terkena percikkan dan rintikkan abu. Setelah itu, Ummi Aeni keluar dari kamarnya, ia menjelaskan bahwa kejadian tadi menggambarkan suatu kejadian fenomena alam yaitu hujan abu dari letusan Gunung Kelud di Kediri. Aku pun terkaget kaget mendengarnya dan langsung bersegera mengambil slayer dan langsung menuju sekolah.

Ketika aku mulai mengikatkan slayer ke hidungku, seketika aku merasa nafasku kurang enak dan slayernya pun berbau aneh. Ini mungkin terjadi, karena aku tak terbiasa memakai slayer. Aku pun melepaskan slayer dari ikatannya dan menyimpannya di saku kecil jilbabku. Aku berjalan kembali sambil menutupi hidungku dengan kerudung. Namun sesekali aku sering membukanya kembali.

Tak berapa lama, satu persatu langkahku telah menyampaikanku pada tempat tujuanku, yaitu sekolah. Nampak teras depan sekolahku sedikit ditutupi abu. Aku pun segera melepaskan sandal yang melekat di kakiku dan seketika aku pun langsung masuk ke sekolahku untuk sholat shubuh. Aku merasa tak nyaman saat itu dengan kaus kakiku, lalu aku mengangkat kaki danmelihatnya, ternyata kaus kaki yang asalnya berwarna hitam berubah menjadi warna putih.
 
Dendang suara iqomat pun terdengar, aku pun langsung merapikan barisanku dengan orang disampingku. Setelah usai sholat, Abah Yoyok pun langsung membuka forum pengumuman. Di dalam forum itu, Abah memberi pengumuman bahwa kelas 7 dan 8 diberi tugas pagi ini untuk mencari abu. Nantinya abu ini akan digunakan untuk percobaan. Kami pun bergegas keluar. Ternyata, di luar sana, hujan abu turun lumayan deras, tapi semangat yang terus membara di diri kami, mengalahkan kekhawatiran dan resiko itu. Kami pun mengambil abu abu, baik yang ada di daun, ataupun di jalanan aspal. Hujan kian turun deras dan Abah memerintahkan untuk mengakhiri pekerjaan tersebut dan menyuruh kami pulang. Sebelum itu, kami ke sekolah terlebih dahulu untuk mengambil tas. Kegiatan mengumpulkan abu, melelahkan dan membuat jilbab dan kerudung sekaligus tas menjadi kotor karena abu. Ditambah lagi, cucianku yang menumpuk, lalu rumah yang ketutupan abu, membuat aku susah untuk mencuci, jadi aku memutuskan untuk laundry.

Aku melihat ke jam, ternyata sudah jam 8 pagi, tapi matahari tak kunjung dating. Sehingga pagi ini terasa seperti jam 6 pagi. Aku pun buru buru masak, karena takut akan terlambat masuk sekolah. Di tengah kekhawatiran belum makan dan mandi, Abah member tahu bahwa hari ini libur. Kami pun teriak senang kegirangan. Rumahku memiliki sebuah ruang pembatas yang itu tak ada atapnya. Abu pun masuk ke kamar lagi. Ruang ini juga kami gunakan untuk pergi ke tempat satu dengan lainnya, setiap kami melewatinya, abu mengenai rambut kami dan itu membuat rambut kami keras seperti sapu ijuk. Hujan abu pun reda, dan turunlah hujan seperti biasanya, namun tetap saja, hujan ini bercampur dengan abu. Belum lagi, abu yang berserakan itu pasti akan menjadi lumpur lumpur yang lembek ketika turun hujan. Namun sekiranya, ini lebih baik dari tadi pagi.




----------------------------------------------



                     EKONOMI MASYARAKAT SUROLOYO


Suroloyo adalah sebuah perbukitan tinggi di wilayah Kulonprogo, Yogyakarta.  Dengan ketinggian 1050 mdpl juga iklim pegunungan tropis menjadikan Suroloyo sebagai lahan berbagai tanaman, terutama tanaman yang cocok hidup di iklim dingin ini, seperti teh, kopi, cengkeh dan kopi. Maka otomatis, dengan sumber daya alam yang melimpah, masyarakat sekitar pegunungan Suroloyo memanfaatkannya sebagai salah satu industry yang menghasilkan nilai harga jual yang tinggi.

Pemanfaatan sumber daya alam Suroloyo ini jumlahnya banyak, seperti: pembuatan minyak atsiri, pembuatan kopi suroloyo, pembuatan teh  suroloyo, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, santri putri Taruna Panatagama pada tanggal 17-18 September 2014 mengunjungi industri industri tersebut: 

1.   Industri Kopi Suroloyo

Sejak tahun 2000, Pak Windarso beserta keluarganya telah mengenali kopi Suroloyo, Mereka menggunakan cara yang tradisional agar dapat menikmati kopi Suroloyo, yaitu dengan memasaknya memakai wajan. Setelah sekian lama mengamati pola kerja petani kopi Suroloyo, Pak Windarso dengan teman temannya merasa petani kopi Suroloyo tidak dihargai. Harga jual kopi Suroloyo yang khas itu hanya bernilai Rp.20.000 saja per kilonya. 


kopi suroloyo
Maka di tahun 2009, petani petani yang melakukan usaha secara individu bergabung bersama Pak Windarso dan teman temannya menjadi sebuah kelompok, yaitu kelompok tani.  Masyarakat Kulonprogo sekitar bukit Suroloyo umumnya memiliki pohon kopi. Dengan lahan yang mereka miliki setiap anggotanya, mereka mulai menjalani usaha kopi Suroloyo. Lahan tersebut mereka gunakan sebagai modal pertama, lalu mereka olah sendiri dan jual sendiri. Lalu keuntungan dari penjualan kopi mereka gunakan kembali untuk modal selanjutnya. Dan di tahun 2011, mereka mengajukan proposal kepada pemerintah dengan beratasnamakan kelompok tani. Dan akhirnya pemerintah memberi sejumlah alat.

Kopi Suroloyo memiliki 2 jenis, yaitu robusta dan arabika. Arabika lebih banyak diminati karena keasamannya yang lebih rendah dan kafeinnya yang rendah membuat penikmatnya terasa lebih fresh karena tidak membuat rasa kantuk. Sedangkan robusta memiliki rasa yang lebih pahit dan sama sama mengurangi rasa kantuk. Tanaman kopi Suroloyo juga dipanen 1 kali 1 tahun selama 3 bulan.

Pak Windarso bersama ketujuh temannya menggunakan biji kopi pilihan, yaitu berwarna merah yang mereka beli Rp.4500 per kilonya dari petani kopi. Namun, seringkali mereka mendapatkan biji kopi yang hijau, karena petani yang kepepet ingin segera mendapatkan uang.

Setelah mendapatkan kopi, dimulailah proses proses pembuatan kopi bubuk Suroloyo. Kopi yang memiliki 3 lapisan, yaitu kulit ceri, kulit cangakang dan kulit ari lalu baru dagingnya, dihilangkan kulit cerinya menggunakan alat giling. Setelah itu, biji kopi direndam selam 12 jam dan setiap 3 jam sekali  air diganti. Tujuan dari perendaman ini adalah mengurangi keasaman dari kopi tersebut. Perendaman dilanjutkan dengan penjemuran di bawah sinar matahari selama 5 hari. 

Setelah kering, biji kopi diimbuh selam 2 bulan. Tujuannya adalah menstabilisasi dan menetralisir khasiat kopi tersebut. Lalu, biji kopi tersebut digiling kembali untuk menghilangkan kulit cangkang dan kulit arinya.. Pemprosesan pun dilanjutkan dengan memilah kopi yang bagus dan yang tidak bagus karena cacat.      



pemilik industri kopi suroloyo yang sedang menyangrai kopi
             Kopi yang cacat bisa dijual seharga Rp.20.000 per kilo ke pasar. Sedangkan kopi yang bagus mengalami proses sangrai. Setelah itu, berlanjut ke proses penggilingan menjadi bubuk lalu dikemas. Bubuk kopi tersebut dijual perkilo Rp 125.000 untuk kopi arabika dan Rp 80.000 per kilo untuk kopi robusta. Selain itu, ada jua yang dijual dalam kemasan sachet, 1 sachetnya berharga Rp 1.200. Perbandingan bahan mentah dengan barang jadisekitar 15%. 

Jika membeli 6 kg kopi mentah, maka hanya menghasilkan 1kg kopi bubuk. Pemasaran kopi Suroloyo sudah mencapai Brazil dan Jepang. Untuk pengeksporan, ia jual kopi arabika  dengan harga yang lebih tinggi, yaitu Rp. 150.000 per kilonya. Jalur pengeksporan, si Bapak hanya tinggal menyortirnya pada temannya di Surabaya. Dan ongkos kirimnya pun ditanggung oleh pihak sana.

Di tahun lalu, industri kopi Suroloyo dapat memproduksi 500 kg kopi bubuk. Maka dalam setahun, mereka menghasilkan omset kurang lebih Rp.60.000.000. Jika sebulan,  mereka mendapatkan 5juta, dan per orangnya mendapatkan kurang lebih 700.000, itupun masih keuntungan kotor. 

Bisa dibayangkan betapa rendahnya nilai kopi Suroloyo yang memiliki rasa asam ini. Apalagi bahan baku yang tidak menentu menjadi pikran terbesar yang menganga di benak para pengusaha industri kopi Suroloyo ini. Jika pemerintah enggan mengulurkan tangannya, maka perlahan kopi Suroloyo ini hanya akan menjadi guratan sejarah anak anak kita kelak. Dan pastinya, tidak akan ada lagi kopi asam khas Indonesia ini.

2.   Industri Teh Suroloyo


Tanaman teh di Suroloyo bukanlah tanaman yang asli tumbuh dengan sendirinya di lahan Suroloyo. Namun, tanaman teh dibawa ke Suroloyo oleh Pt. Pagilaran. Bersama perusahaan tersebut, masyarakat sekitar Suroloyo  diajari cara menanam dan budidaya tanaman teh. Tak lupa, perusahaan tersebut memberi saran agar lahan di Suroloyo ini ditanami tanaman teh saja.

Berkat saran perusahaan tersebut, Bu Dukuh (salah satu pengusaha teh Suroloyo), di tahun 1990 memulai menanam tanaman teh di lahannya sendiri dan baru di tahun 2008 Bu Dukuh memulai usaha pemproduksian teh Suroloyo.
kebun teh suroloyo

Tanaman teh dapat hidup di ketinggian minimal 700 mdpl. Tidak sulit untuk merawat tanaman teh apalagi pengairannya. Untuk melindungi tanaman teh, warga menanam di sekililing lahan teh dengan pohon saman. Pengairannya yang memanfaatkan air hujan, membuat tanaman  teh yang pendek akan cepat rusak akibat derasnya air hujan. Namun setelah adanya pohon saman, tanaman teh menjadi terlindungi dari derasnya air hujan.
 
Di musim kemarau, para petani teh tak dapat memaksimalkan panen 1 minggu sekali, karena sulit tumbuhnya tanaman teh. Inilah salah satu resiko ketika pengairan suatu tanaman memanfaatkan air hujan.

Tanaman teh yang diproduksi ada dua, yaitu teh hijau dan teh hitam. Teh hitam lebih banyak digemari karena sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia menyantapnya dan bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Namun teh yang lebih terkenal akan media obatnya adalah teh hijau yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk kanker.

Dibilang teh hijau, karena daunnya yang berasal dari pucuk, ukurannya yang lebih kecil dan warnanya yang hijau muda. Pemprosesannya yang dibilang lebih singkat (dipetik lalu disangrai dan dikemas),  menjadikannya lebih berkhasiat dan bernilai jual lebih yaitu Rp.45.000 per bungkus.

Sedangkan teh hitam, mengambil daun yang lebih hijau dan yang pasti bukan pucuk utama. Ukurannnya yang lebih besar menjadikannya diproses lebih lama demi menghasilkan serbuk teh hitam yang berkualitas. Pemprosesannya dipetik, dipotong, disangrai setengah matang, diremas, disangrai lagi, lalu dikemas. Walau pemprosesannya dibilang panjang, namun harga jual teh hitam lebih murah yaitu Rp. 40.000 per bungkusnya.

Setelah teh berbentuk menjadi kemasan, Bu Dukuh menjualnya ke Pak Marjo, yaitu tempat oleh oleh wisata. Dalam sebulan Bu Dukuh yang memiliki seperempat hektar dapat memanen sekitar 15 – 25 kg basah dan 5 kg jika sudah diproses.


3.   Industri Minyak Atsiri

            Dahulu di Suroloyo, dihiasi dengan rerimbunan bambu yang hanya dimanfaatkan kayunya oleh warga sekitar. Cengkeh adalah tanaman yang tidak dimanfaatkan sedikitpun oleh warga ketika itu. 

Pak Bambang ketika itu bukanlah siapa siapa. Ia hanyalah supir dan  bakul namun disisi lain ia mengamati pola kerja penyulingan. Sepulangnya di kampung halaman, ia berfikir untuk mengembangkan ekonomi masyarakat Suroloyo. Berkat pengamatannya, ia mulai untuk mengumpulkan para bakul agar bisa menjual daun cengkeh kepadanya , perklonya Rp.20.000. Dari sini, ia mulai menyuling daun cengkeh dengan cara destilasi menggunakan alat berkonsep dandang… Namun setelah mengalami beberapa kendala akibat banyaknya kotoran yang ikut terdestilasi, ia mulai beralih menggunakan alat yang lebih praktis, besar dan dapat menampung 1 ton daun cengkeh yang berharga puluhan juta.

tempat penyulingan
     Penyulingan daun cengkeh dilakukan ketika musim kemarau. Hal ini menyebabkan di musm hujan para warga tak mendapatkan mata pencahariannya sebagai penunjang kehidupan. Namun setelah menemukan tanaman nilan, di musim hujan warga tak usah cemas lagi akan perkara itu, karena bisa bersenang senang ria memanen tanaman nilam. 
  


-----------------------------------------------





Kenangan Indah Awal di Merden

Hembusan angin malam nan kencang menusuk tulang rusukku. Udara memang tak sedingin yang kurasakan, namun laju truk yang berkecepatan tinggi memicu angin ribut dan kencang. Kulihat langit, semakin lama semakin gelap. Kulihat awan pun kelabu warnanya. Penantianku selama 5 jam, tak kunjung tiba juga. Aku pun pasrah diri seraya melihat bulan yang bersinar.

Seketika laju truk pun melambat dan berhenti di tepi jalan yang disampingnya terdapat pasar yang kios kiosnya tertutup. Teman temanku yang ketika itu tertidur langsung terbangun kaget mendengar ucapan beberapa orang yang bangun. Orang orang itu berkata “Sudah nyampai…, Ini pasar Merden…”. Bukan hanya mereka yang kaget terbangun, aku saja yang dari tadi berdiri lemas menunggu penantian sampai, terkaget tak percaya. 

Sejenak semangat membara muncul tersinar dari wajah wajah kami, walau seluruh badan pegal dan lemas. Semua orang kegirangan dan segera ingin turun dari truk yang penuh sesak. Namun, beberapa detik setelah itu, truk pun melaju beberapa meter, dan berhenti di tepi jalan yang disebelahnya terdapat masjid. Kami pun turun dari truk tanpa membawa barang bawaan kami. Karena di masjid kita hanya sekadar menuanaikan sholat.

Kumandang adzan isya pun terdengar keras dan merdu. Seusai menuruni tangga truk, aku terkagum melihat masjidnya yang besar nan bagus. Bukan hanya itu, masjid yang bernama masjid Al Falah ini memiliki menara yang tinggi sekali dan bercahaya. Bukan hanya terkagum, aku pun terkejut, menyadari bahwa daerah yang kini kupijaki berada di sebuah perbukitan yang  jalanannya harus ditempuh dengan susah payah. Tebing yang dikelilingi jurang, jalanan curam nan sempit, rerimbunan hutan yang gelap, itulah track yang kami lalui menuju desa Merden ini..

Truk melaju kembali dengan kecepatan sedang seusai kami menunaikan sholat di masjid Al Falah. Tak lama, truk pun berhenti di seberang SD. Gerimis pun turun, dengan segera kami berestafet menuruni barang bawaan kami dari truk. Gerimis pun menjadi semakin deras, kami berlarian membawa barang masing masing ke sebuah rumah yang dijadikan basecamp. Dingin yang menyelimuti tubuh kami memanjakn kami untuk tidur. Namun, kami belum bisa memasuki rumah, karena sedang dibersihkan oleh beberapa teman. Terpaksa kami pun menunggu di teras rumah dengan rasa kantuk, dingin dan rasa lapar.

Kami yang diluar pun menanti makan dan kesempatan masuk ke basecamp berjam jam hingga kami pun tertidur. Ada yang tidur di lantai, ada yang berjongkok, ada yang di kursi dan lain lain. Maklum, rumah yang akan kami tinggali ini sudah tak dihuni selama 25 tahun. Jadi, untuk membersihkannya membutuhkan waktu yang tak sebentar. Akhirnya pekerjaan membersihkan pun selesai, dan teman teman yang lain membangunkan kami untuk segera masuk ke basecamp.

Memasuki basecamp, aku dan teman teman menaruh barang barang kami dengan rapi. Setelah itu, kami pun tidur tiduran ria melepas seluruh kepenatan yang ada. Kami pun bercengkerama dan bercanda ria hingga akhirnya makan pun tiba. Karena kenyang dan merasa sangat lelah kami pun tertidur dengan cepat dan pulas.

Aku pun terbangun ketika teman temanku membangunkanku. Aku pun membanhkitkan tubuhku dari kekantukkan dan keluar dari rumah untuk sholat shubuh di masjid Al Falah. Dengan membawa mukena, aku dengan kedua temanku mulai berjalan. Lama kelamaan, dingin pun semakin menusuk, aku pun mendekap tubuhku seraya gemetaran. Jalanan yang sepi dan menanjak membuat kami smpat kesal karena tidak sampai sampai, kami pun sedikit mengeluh. Walau begitu, kami harus tetap pergi menuju masjid itu. Tingginya menara nan bercahaya membuat lega kami, karena sebentar lagi akan sampai. Seusai sampai, kami pun beranjak wudhu yang dilanjutkan dengan sholat.

Keluar dari masjid, cahaya matahari sudah menerangi langit Merden. Kami semua beranjak ke basecamp kembali. Kini, berjalannya tak hening seperti tadi, namun suasana menjadi lebih hidup karena kami berjalan sambil bercengkrama. Tak terasa, kami pun sampai di basecamp. Suasana pun sudah ribut dengan teriakan mengantri kamar mandi. Karena tak mau terlambat, aku pun segera mengantri untuk mandi. Antrian yang panjang dan air yang sering macet membuatku semakin lama semakin tak sabar. Tiba tiba Mba Ilmi datang mengobati kegundahanku, ia mengajakku mandi di rumah saudaranya. Dengan ditemani oleh kelima temanku termasauk Mba Ilmi, kami pun beranjak pergi ke rumah saudaranya yang tidak jauh dari basecamp. Sesampainya disana, kami disambut baik dan kami dipersilahkan untuk memakai kamar mandinya.

Setelah semuanya mandi, kami pun bergegas pulang menaruh peralaan mandi dan baju kotor. Sesampainya di basecamp, suasana rumah sepi dan kosong tidak ada orang. Kami pun segera menyadari bahwa kami terlambat pergi ke Balai Desa untuk pertemuan dengan aparat Desa. Kami pun langsung berganti baju dan pergi ke Balai Desa dengan sangat tergesa gesa. Tak lama kemudian, kami pun sampai di Balai Desa. Kami berjalan memasuki area halaman dan ternyata teman teman kami masih bersantai. Ternyata guru dan aparat Desa belum datang. Sembari menunggu kedtangan mereka semua, kami menata kursi di pendapa Balai Desa.

Tak lama, guru guru kami pun tiba disusul dengan seorang bapak bapak yang terlihat seperti Bapak Kepala Desa. Bapak itu duduk di kursi dan memulai membuka acara. Ia membuka dengan perkenalan dirinya, dan benar saja, bapak itu adalah Pak Sukarso, sang Kepala Desa Merden. Sebagai perwakilan desa ia menyambut dengan sangat hangat kedatangan kami di Desa Merden. Ia menjelaskan sekilas potensi alam Merden dan kepemilikan historis sejarahnya yang tinggi.

Pertemuan dengan Pak Sukarso, sungguh memberi kami pengetahuan sekilas tentang desa yang kini kami pijaki. Bersama kelasku (yaitu kelas 9) dan dua guru pendamping (yaitu Ustadz Agus dan Ust Zulfikar) kami memulai menjelajahi Desa Merden ini. Aku dan seluruh teman temanku tidak mengetahui akan pergi dan menuju kemana, Ustadz Agus lah yang menjadi petunjuk arah. Setelah melewati jalan utama, kami berbelok menyusuri jalan setapak yang dirimbuni oleh pepohonan liar. Memasuki kebun setengah hutan suasana sepi dan pemandangannya pun membosankan. 

Kami pun behenti sejenak, melihat jalanan yang buntu. Mendengar gemuruh air, kami pun segera mengambil jalan tikus. Aku sedikit tak berani menuruni jalanan tikus yang becek, dengan perlahan aku pun mulai berjalan, dan akhirnya aku pun sampai di tepi sungai. Sungai ini kotor berwarna coklat dan arusnya deras. Aku merasa tak takjub dan sedikit kecewa. Karena bosan, kami pun lanjut menyusuri kembali jalanan tikus.
Ting….. ternyata kami muncul kembali di jalan utama, namun berbeda tempat dari tempat semula. Perjalanan tidak hanya sampai disini, kami menyeberangi jalan utama dan masuk ke sebuah jalan sedang yang beraspal. Aku pun penasaran dan menuruni jalan tikus yang memelosok. Teman temanku pun mengikutiku dan kami menemui 2 buah mata air yang jernih. Tanpa basa basi lagi aku turun ke salah satu mata air yang tidak terlalu besar. Aku mengambil batok kelapa yang mengapug di kolam mata air untuk dipergunakan sebagai gayung. Aku memulai membasahi tanganku. Tak lama Jihan turun dan dengan langsung ia meminum air itu. Melihat Jihan yang tampak ceria setelah meminum air itu, aku pun mencoba meminum airnya walau hanya satu tegukan. Dan ternyata airnya sangat segar dan tak berasa.

Ustadz Agus terus memanggil kami untuk segera mengakhiri bermain di mata air ini. Aku pun membasuh muka dan langsung beranjak dari mata air itu. Melihat ke samping, ada mata air lagi yang besarnya tak beda jauh dengan mata air yang tadi kami kunjungi. Walu tak beda jauh, mata air itu sedikit ditutupi dengan sarang laba laba dan di dalam airnya terdapat sabun batang. Aku pun merasa lega karena tidak salah tempat meminum mata air..

Beranjak dari mata air, kami menemui lanjutan sungai tadi, namun aku terkagum melihat sungainya yang besar, lebar, dan arusnya lebih besar, ditambah dengan barisan tebing tebing rendah yang ada di tepinya. Melewati tepian sungai, kami kembali melanjuti perjalanan kami. Menyusuri jalanan aspal, kami menemui bak besar berisi air yang berasal dari mata air. Setelah melihat lebih dekat, kami tak jadi menikmati air itu karena airnya sudah berubah menjadi putih kebiru biruan. Melit ke bawah, puluhan bungkus detergent dan sabun mandi berceceran. Dan hal itu yang menyebabkan mata air yang tertampung dalam bak tercemar dan tak bisa dikonsumsi lagi. 

Merden memiliki banyak sekali mata air, termasuk yang aku dan teman temanku kunjungi. Namun yang kami kunjungi hanya sebagian kecil saja dan tak mewakili keindahan mata air yang lain yang lebih indah. Yang unik dari Merden, setiap ada mata air, disampingnya atau pun di dekatnya akan ada sebuah mushola. Maka tak asing lagi, bila kita berkunjung di Merden banyak menemui mushola mushola sekalipun di tengah kebun.


Perjalanan ini hanyalah perjalanan awal aku di Merden, masih banyak lagi kisah menyenangkan, mengharukan dan kisah warna warni yang belum aku tuangkan…..

TO BE CONTINUE……..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar