Rumahku Kota
Mati
Di siang yang redup, hentakkan kakiku terus mendorongku tuk mencari cari laundry yang buka. Jejakanku terkadang tersendat kala abu tebal ataupun kubangan air menjebakku. Kulihat di sekelilingku Nampak seperti kota mati. Abu berserakan dimana mana, hingga rumah, mobil, dan semua barang yang ada di jalan tertutupi oleh abu. Aku terus menelusuri jalanan aspal, mencari dan mencari tempat laundry yang buka. Aku sempat kesal, karena semua tempat laundry yang kujumpai ternyata tutup. Sesekali, aku juga semakin kesal karena angin yang datang menyeok abu, aku pun sesekali kekelipan karenanya…
Siang
ini, tak lebih parah dari pada tadi pagi. Karena tepat setelah aku terbangun
dari tidurku, kira kira jam 4 pagi, temanku keluar rumah dan tiba tiba tas yang
ia bawa terkena percikkan dan rintikkan abu. Setelah itu, Ummi Aeni keluar dari
kamarnya, ia menjelaskan bahwa kejadian tadi menggambarkan suatu kejadian
fenomena alam yaitu hujan abu dari letusan Gunung Kelud di Kediri. Aku pun
terkaget kaget mendengarnya dan langsung bersegera mengambil slayer dan
langsung menuju sekolah.
Ketika aku mulai mengikatkan slayer ke hidungku, seketika aku merasa nafasku kurang enak dan slayernya pun berbau aneh. Ini mungkin terjadi, karena aku tak terbiasa memakai slayer. Aku pun melepaskan slayer dari ikatannya dan menyimpannya di saku kecil jilbabku. Aku berjalan kembali sambil menutupi hidungku dengan kerudung. Namun sesekali aku sering membukanya kembali.
Ketika aku mulai mengikatkan slayer ke hidungku, seketika aku merasa nafasku kurang enak dan slayernya pun berbau aneh. Ini mungkin terjadi, karena aku tak terbiasa memakai slayer. Aku pun melepaskan slayer dari ikatannya dan menyimpannya di saku kecil jilbabku. Aku berjalan kembali sambil menutupi hidungku dengan kerudung. Namun sesekali aku sering membukanya kembali.
Tak
berapa lama, satu persatu langkahku telah menyampaikanku pada tempat tujuanku,
yaitu sekolah. Nampak teras depan sekolahku sedikit ditutupi abu. Aku pun
segera melepaskan sandal yang melekat di kakiku dan seketika aku pun langsung
masuk ke sekolahku untuk sholat shubuh. Aku merasa tak nyaman saat itu dengan
kaus kakiku, lalu aku mengangkat kaki danmelihatnya, ternyata kaus kaki yang
asalnya berwarna hitam berubah menjadi warna putih.
Dendang
suara iqomat pun terdengar, aku pun langsung merapikan barisanku dengan orang
disampingku. Setelah usai sholat, Abah Yoyok pun langsung membuka forum
pengumuman. Di dalam forum itu, Abah memberi pengumuman bahwa kelas 7 dan 8
diberi tugas pagi ini untuk mencari abu. Nantinya abu ini akan digunakan untuk
percobaan. Kami pun bergegas keluar. Ternyata, di luar sana, hujan abu turun
lumayan deras, tapi semangat yang terus membara di diri kami, mengalahkan
kekhawatiran dan resiko itu. Kami pun mengambil abu abu, baik yang ada di daun,
ataupun di jalanan aspal. Hujan kian turun deras dan Abah memerintahkan untuk
mengakhiri pekerjaan tersebut dan menyuruh kami pulang. Sebelum itu, kami ke
sekolah terlebih dahulu untuk mengambil tas. Kegiatan mengumpulkan abu,
melelahkan dan membuat jilbab dan kerudung sekaligus tas menjadi kotor karena
abu. Ditambah lagi, cucianku yang menumpuk, lalu rumah yang ketutupan abu,
membuat aku susah untuk mencuci, jadi aku memutuskan untuk laundry.
Aku
melihat ke jam, ternyata sudah jam 8 pagi, tapi matahari tak kunjung dating.
Sehingga pagi ini terasa seperti jam 6 pagi. Aku pun buru buru masak, karena
takut akan terlambat masuk sekolah. Di tengah kekhawatiran belum makan dan
mandi, Abah member tahu bahwa hari ini libur. Kami pun teriak senang
kegirangan. Rumahku memiliki sebuah ruang pembatas yang itu tak ada atapnya.
Abu pun masuk ke kamar lagi. Ruang ini juga kami gunakan untuk pergi ke tempat
satu dengan lainnya, setiap kami melewatinya, abu mengenai rambut kami dan itu
membuat rambut kami keras seperti sapu ijuk. Hujan abu pun reda, dan turunlah
hujan seperti biasanya, namun tetap saja, hujan ini bercampur dengan abu. Belum
lagi, abu yang berserakan itu pasti akan menjadi lumpur lumpur yang lembek
ketika turun hujan. Namun sekiranya, ini lebih baik dari tadi pagi.
----------------------------------------------
EKONOMI MASYARAKAT SUROLOYO
Suroloyo adalah sebuah perbukitan tinggi di wilayah Kulonprogo, Yogyakarta. Dengan ketinggian 1050 mdpl juga iklim pegunungan tropis menjadikan Suroloyo sebagai lahan berbagai tanaman, terutama tanaman yang cocok hidup di iklim dingin ini, seperti teh, kopi, cengkeh dan kopi. Maka otomatis, dengan sumber daya alam yang melimpah, masyarakat sekitar pegunungan Suroloyo memanfaatkannya sebagai salah satu industry yang menghasilkan nilai harga jual yang tinggi.
Pemanfaatan sumber daya alam Suroloyo ini jumlahnya banyak, seperti: pembuatan minyak atsiri, pembuatan kopi suroloyo, pembuatan teh suroloyo, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, santri putri Taruna Panatagama pada tanggal 17-18 September 2014 mengunjungi industri industri tersebut:
1. Industri Kopi Suroloyo
Sejak tahun 2000, Pak Windarso
beserta keluarganya telah mengenali kopi Suroloyo, Mereka menggunakan cara yang
tradisional agar dapat menikmati kopi Suroloyo, yaitu dengan memasaknya memakai
wajan. Setelah sekian lama mengamati pola kerja petani kopi Suroloyo, Pak
Windarso dengan teman temannya merasa petani kopi Suroloyo tidak dihargai.
Harga jual kopi Suroloyo yang khas itu hanya bernilai Rp.20.000 saja per
kilonya.
![]() |
| kopi suroloyo |
Maka di tahun 2009,
petani petani yang melakukan usaha secara individu bergabung bersama Pak
Windarso dan teman temannya menjadi sebuah kelompok, yaitu kelompok tani. Masyarakat Kulonprogo sekitar bukit Suroloyo
umumnya memiliki pohon kopi. Dengan lahan yang mereka miliki setiap anggotanya,
mereka mulai menjalani usaha kopi Suroloyo. Lahan tersebut mereka gunakan
sebagai modal pertama, lalu mereka olah sendiri dan jual sendiri. Lalu
keuntungan dari penjualan kopi mereka gunakan kembali untuk modal selanjutnya.
Dan di tahun 2011, mereka mengajukan proposal kepada pemerintah dengan
beratasnamakan kelompok tani. Dan akhirnya pemerintah memberi sejumlah alat.
Kopi Suroloyo memiliki 2 jenis, yaitu robusta dan arabika. Arabika lebih banyak diminati karena keasamannya yang lebih rendah dan kafeinnya yang rendah membuat penikmatnya terasa lebih fresh karena tidak membuat rasa kantuk. Sedangkan robusta memiliki rasa yang lebih pahit dan sama sama mengurangi rasa kantuk. Tanaman kopi Suroloyo juga dipanen 1 kali 1 tahun selama 3 bulan.
Pak Windarso bersama ketujuh temannya menggunakan biji kopi pilihan, yaitu berwarna merah yang mereka beli Rp.4500 per kilonya dari petani kopi. Namun, seringkali mereka mendapatkan biji kopi yang hijau, karena petani yang kepepet ingin segera mendapatkan uang.
Setelah mendapatkan kopi, dimulailah
proses proses pembuatan kopi bubuk Suroloyo. Kopi yang memiliki 3 lapisan,
yaitu kulit ceri, kulit cangakang dan kulit ari lalu baru dagingnya,
dihilangkan kulit cerinya menggunakan alat giling. Setelah itu, biji kopi
direndam selam 12 jam dan setiap 3 jam sekali
air diganti. Tujuan dari perendaman ini adalah mengurangi keasaman dari
kopi tersebut. Perendaman dilanjutkan dengan penjemuran di bawah sinar matahari
selama 5 hari.
Setelah kering, biji kopi diimbuh selam 2 bulan. Tujuannya
adalah menstabilisasi dan menetralisir khasiat kopi tersebut. Lalu, biji kopi
tersebut digiling kembali untuk menghilangkan kulit cangkang dan kulit arinya..
Pemprosesan pun dilanjutkan dengan memilah kopi yang bagus dan yang tidak bagus
karena cacat.
| pemilik industri kopi suroloyo yang sedang menyangrai kopi |
Jika membeli 6
kg kopi mentah, maka hanya menghasilkan 1kg kopi bubuk. Pemasaran kopi Suroloyo
sudah mencapai Brazil dan Jepang. Untuk pengeksporan, ia jual kopi arabika dengan harga yang lebih tinggi, yaitu Rp.
150.000 per kilonya. Jalur pengeksporan, si Bapak hanya tinggal menyortirnya
pada temannya di Surabaya. Dan ongkos kirimnya pun ditanggung oleh pihak sana.
Di tahun lalu, industri kopi Suroloyo
dapat memproduksi 500 kg kopi bubuk. Maka dalam setahun, mereka menghasilkan
omset kurang lebih Rp.60.000.000. Jika sebulan, mereka mendapatkan 5juta, dan per orangnya
mendapatkan kurang lebih 700.000, itupun masih keuntungan kotor.
Bisa dibayangkan betapa rendahnya
nilai kopi Suroloyo yang memiliki rasa asam ini. Apalagi bahan baku yang tidak
menentu menjadi pikran terbesar yang menganga di benak para pengusaha industri
kopi Suroloyo ini. Jika pemerintah enggan mengulurkan tangannya, maka perlahan
kopi Suroloyo ini hanya akan menjadi guratan sejarah anak anak kita kelak. Dan
pastinya, tidak akan ada lagi kopi asam khas Indonesia ini.
2. Industri Teh Suroloyo
Tanaman teh di Suroloyo bukanlah tanaman yang asli tumbuh
dengan sendirinya di lahan Suroloyo. Namun, tanaman teh dibawa ke Suroloyo oleh
Pt. Pagilaran. Bersama perusahaan tersebut, masyarakat sekitar Suroloyo diajari cara menanam dan budidaya tanaman teh.
Tak lupa, perusahaan tersebut memberi saran agar lahan di Suroloyo ini ditanami
tanaman teh saja.
Berkat saran perusahaan tersebut, Bu Dukuh (salah satu pengusaha teh
Suroloyo), di tahun 1990 memulai menanam tanaman teh di lahannya sendiri dan
baru di tahun 2008 Bu Dukuh memulai usaha pemproduksian teh Suroloyo.
Tanaman teh dapat hidup di ketinggian minimal 700 mdpl. Tidak sulit untuk
merawat tanaman teh apalagi pengairannya. Untuk melindungi tanaman teh, warga
menanam di sekililing lahan teh dengan pohon saman. Pengairannya yang
memanfaatkan air hujan, membuat tanaman teh
yang pendek akan cepat rusak akibat derasnya air hujan. Namun setelah adanya
pohon saman, tanaman teh menjadi terlindungi dari derasnya air hujan.
Di musim kemarau, para petani teh tak dapat memaksimalkan panen 1 minggu
sekali, karena sulit tumbuhnya tanaman teh. Inilah salah satu resiko ketika
pengairan suatu tanaman memanfaatkan air hujan.
Tanaman teh yang diproduksi ada dua, yaitu teh hijau dan teh
hitam. Teh hitam lebih banyak digemari karena sudah menjadi kebiasaan orang
Indonesia menyantapnya dan bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Namun teh yang
lebih terkenal akan media obatnya adalah teh hijau yang dapat menyembuhkan
berbagai penyakit, termasuk kanker.
Dibilang teh hijau, karena daunnya yang berasal dari pucuk, ukurannya yang lebih kecil dan warnanya yang hijau muda. Pemprosesannya yang dibilang lebih singkat (dipetik lalu disangrai dan dikemas), menjadikannya lebih berkhasiat dan bernilai jual lebih yaitu Rp.45.000 per bungkus.
Dibilang teh hijau, karena daunnya yang berasal dari pucuk, ukurannya yang lebih kecil dan warnanya yang hijau muda. Pemprosesannya yang dibilang lebih singkat (dipetik lalu disangrai dan dikemas), menjadikannya lebih berkhasiat dan bernilai jual lebih yaitu Rp.45.000 per bungkus.
Sedangkan teh hitam, mengambil daun yang lebih hijau dan yang pasti bukan
pucuk utama. Ukurannnya yang lebih besar menjadikannya diproses lebih lama demi
menghasilkan serbuk teh hitam yang berkualitas. Pemprosesannya dipetik,
dipotong, disangrai setengah matang, diremas, disangrai lagi, lalu dikemas.
Walau pemprosesannya dibilang panjang, namun harga jual teh hitam lebih murah
yaitu Rp. 40.000 per bungkusnya.
Setelah teh berbentuk menjadi kemasan, Bu Dukuh menjualnya ke Pak Marjo, yaitu tempat oleh oleh wisata. Dalam sebulan Bu Dukuh yang memiliki seperempat hektar dapat memanen sekitar 15 – 25 kg basah dan 5 kg jika sudah diproses.
3. Industri Minyak Atsiri
Dahulu di Suroloyo, dihiasi dengan
rerimbunan bambu yang hanya dimanfaatkan kayunya oleh warga sekitar. Cengkeh
adalah tanaman yang tidak dimanfaatkan sedikitpun oleh warga ketika itu.
Pak Bambang ketika itu bukanlah siapa
siapa. Ia hanyalah supir dan bakul namun
disisi lain ia mengamati pola kerja penyulingan. Sepulangnya di kampung
halaman, ia berfikir untuk mengembangkan ekonomi masyarakat Suroloyo. Berkat
pengamatannya, ia mulai untuk mengumpulkan para bakul agar bisa menjual daun
cengkeh kepadanya , perklonya Rp.20.000. Dari sini, ia mulai menyuling daun
cengkeh dengan cara destilasi menggunakan alat berkonsep dandang… Namun setelah
mengalami beberapa kendala akibat banyaknya kotoran yang ikut terdestilasi, ia
mulai beralih menggunakan alat yang lebih praktis, besar dan dapat menampung 1
ton daun cengkeh yang berharga puluhan juta.
| tempat penyulingan |
Penyulingan daun cengkeh dilakukan
ketika musim kemarau. Hal ini menyebabkan di musm hujan para warga tak
mendapatkan mata pencahariannya sebagai penunjang kehidupan. Namun setelah
menemukan tanaman nilan, di musim hujan warga tak usah cemas lagi akan perkara
itu, karena bisa bersenang senang ria memanen tanaman nilam.
-----------------------------------------------
Kenangan Indah Awal di Merden
Hembusan angin malam
nan kencang menusuk tulang rusukku. Udara memang tak sedingin yang kurasakan, namun
laju truk yang berkecepatan tinggi memicu angin ribut dan kencang. Kulihat langit,
semakin lama semakin gelap. Kulihat awan pun kelabu warnanya. Penantianku
selama 5 jam, tak kunjung tiba juga. Aku pun pasrah diri seraya melihat bulan
yang bersinar.
Seketika
laju truk pun melambat dan berhenti di tepi jalan yang disampingnya terdapat
pasar yang kios kiosnya tertutup. Teman temanku yang ketika itu tertidur
langsung terbangun kaget mendengar ucapan beberapa orang yang bangun. Orang
orang itu berkata “Sudah nyampai…, Ini pasar Merden…”. Bukan hanya mereka yang
kaget terbangun, aku saja yang dari tadi berdiri lemas menunggu penantian
sampai, terkaget tak percaya.
Sejenak semangat membara muncul tersinar dari wajah wajah kami, walau seluruh badan pegal dan lemas. Semua orang kegirangan dan segera ingin turun dari truk yang penuh sesak. Namun, beberapa detik setelah itu, truk pun melaju beberapa meter, dan berhenti di tepi jalan yang disebelahnya terdapat masjid. Kami pun turun dari truk tanpa membawa barang bawaan kami. Karena di masjid kita hanya sekadar menuanaikan sholat.
Kumandang adzan isya pun terdengar keras dan merdu. Seusai menuruni tangga truk, aku terkagum melihat masjidnya yang besar nan bagus. Bukan hanya itu, masjid yang bernama masjid Al Falah ini memiliki menara yang tinggi sekali dan bercahaya. Bukan hanya terkagum, aku pun terkejut, menyadari bahwa daerah yang kini kupijaki berada di sebuah perbukitan yang jalanannya harus ditempuh dengan susah payah. Tebing yang dikelilingi jurang, jalanan curam nan sempit, rerimbunan hutan yang gelap, itulah track yang kami lalui menuju desa Merden ini..
Sejenak semangat membara muncul tersinar dari wajah wajah kami, walau seluruh badan pegal dan lemas. Semua orang kegirangan dan segera ingin turun dari truk yang penuh sesak. Namun, beberapa detik setelah itu, truk pun melaju beberapa meter, dan berhenti di tepi jalan yang disebelahnya terdapat masjid. Kami pun turun dari truk tanpa membawa barang bawaan kami. Karena di masjid kita hanya sekadar menuanaikan sholat.
Kumandang adzan isya pun terdengar keras dan merdu. Seusai menuruni tangga truk, aku terkagum melihat masjidnya yang besar nan bagus. Bukan hanya itu, masjid yang bernama masjid Al Falah ini memiliki menara yang tinggi sekali dan bercahaya. Bukan hanya terkagum, aku pun terkejut, menyadari bahwa daerah yang kini kupijaki berada di sebuah perbukitan yang jalanannya harus ditempuh dengan susah payah. Tebing yang dikelilingi jurang, jalanan curam nan sempit, rerimbunan hutan yang gelap, itulah track yang kami lalui menuju desa Merden ini..
Truk
melaju kembali dengan kecepatan sedang seusai kami menunaikan sholat di masjid
Al Falah. Tak lama, truk pun berhenti di seberang SD. Gerimis pun turun, dengan
segera kami berestafet menuruni barang bawaan kami dari truk. Gerimis pun
menjadi semakin deras, kami berlarian membawa barang masing masing ke sebuah
rumah yang dijadikan basecamp. Dingin yang menyelimuti tubuh kami memanjakn
kami untuk tidur. Namun, kami belum bisa memasuki rumah, karena sedang
dibersihkan oleh beberapa teman. Terpaksa kami pun menunggu di teras rumah
dengan rasa kantuk, dingin dan rasa lapar.
Kami
yang diluar pun menanti makan dan kesempatan masuk ke basecamp berjam jam
hingga kami pun tertidur. Ada yang tidur di lantai, ada yang berjongkok, ada
yang di kursi dan lain lain. Maklum, rumah yang akan kami tinggali ini sudah
tak dihuni selama 25 tahun. Jadi, untuk membersihkannya membutuhkan waktu yang
tak sebentar. Akhirnya pekerjaan membersihkan pun selesai, dan teman teman yang
lain membangunkan kami untuk segera masuk ke basecamp.
Memasuki
basecamp, aku dan teman teman menaruh barang barang kami dengan rapi. Setelah
itu, kami pun tidur tiduran ria melepas seluruh kepenatan yang ada. Kami pun
bercengkerama dan bercanda ria hingga akhirnya makan pun tiba. Karena kenyang
dan merasa sangat lelah kami pun tertidur dengan cepat dan pulas.
Aku
pun terbangun ketika teman temanku membangunkanku. Aku pun membanhkitkan
tubuhku dari kekantukkan dan keluar dari rumah untuk sholat shubuh di masjid Al
Falah. Dengan membawa mukena, aku dengan kedua temanku mulai berjalan. Lama
kelamaan, dingin pun semakin menusuk, aku pun mendekap tubuhku seraya
gemetaran. Jalanan yang sepi dan menanjak membuat kami smpat kesal karena tidak
sampai sampai, kami pun sedikit mengeluh. Walau begitu, kami harus tetap pergi
menuju masjid itu. Tingginya menara nan bercahaya membuat lega kami, karena
sebentar lagi akan sampai. Seusai sampai, kami pun beranjak wudhu yang
dilanjutkan dengan sholat.
Keluar
dari masjid, cahaya matahari sudah menerangi langit Merden. Kami semua beranjak
ke basecamp kembali. Kini, berjalannya tak hening seperti tadi, namun suasana
menjadi lebih hidup karena kami berjalan sambil bercengkrama. Tak terasa, kami
pun sampai di basecamp. Suasana pun sudah ribut dengan teriakan mengantri kamar
mandi. Karena tak mau terlambat, aku pun segera mengantri untuk mandi. Antrian
yang panjang dan air yang sering macet membuatku semakin lama semakin tak
sabar. Tiba tiba Mba Ilmi datang mengobati kegundahanku, ia mengajakku mandi di
rumah saudaranya. Dengan ditemani oleh kelima temanku termasauk Mba Ilmi, kami
pun beranjak pergi ke rumah saudaranya yang tidak jauh dari basecamp.
Sesampainya disana, kami disambut baik dan kami dipersilahkan untuk memakai
kamar mandinya.
Setelah semuanya mandi, kami pun bergegas pulang menaruh peralaan mandi dan baju kotor. Sesampainya di basecamp, suasana rumah sepi dan kosong tidak ada orang. Kami pun segera menyadari bahwa kami terlambat pergi ke Balai Desa untuk pertemuan dengan aparat Desa. Kami pun langsung berganti baju dan pergi ke Balai Desa dengan sangat tergesa gesa. Tak lama kemudian, kami pun sampai di Balai Desa. Kami berjalan memasuki area halaman dan ternyata teman teman kami masih bersantai. Ternyata guru dan aparat Desa belum datang. Sembari menunggu kedtangan mereka semua, kami menata kursi di pendapa Balai Desa.
Setelah semuanya mandi, kami pun bergegas pulang menaruh peralaan mandi dan baju kotor. Sesampainya di basecamp, suasana rumah sepi dan kosong tidak ada orang. Kami pun segera menyadari bahwa kami terlambat pergi ke Balai Desa untuk pertemuan dengan aparat Desa. Kami pun langsung berganti baju dan pergi ke Balai Desa dengan sangat tergesa gesa. Tak lama kemudian, kami pun sampai di Balai Desa. Kami berjalan memasuki area halaman dan ternyata teman teman kami masih bersantai. Ternyata guru dan aparat Desa belum datang. Sembari menunggu kedtangan mereka semua, kami menata kursi di pendapa Balai Desa.
Tak lama, guru guru kami pun tiba disusul dengan seorang bapak bapak yang terlihat seperti Bapak Kepala Desa. Bapak itu duduk di kursi dan memulai membuka acara. Ia membuka dengan perkenalan dirinya, dan benar saja, bapak itu adalah Pak Sukarso, sang Kepala Desa Merden. Sebagai perwakilan desa ia menyambut dengan sangat hangat kedatangan kami di Desa Merden. Ia menjelaskan sekilas potensi alam Merden dan kepemilikan historis sejarahnya yang tinggi.
Pertemuan dengan Pak Sukarso, sungguh memberi kami pengetahuan sekilas tentang desa yang kini kami pijaki. Bersama kelasku (yaitu kelas 9) dan dua guru pendamping (yaitu Ustadz Agus dan Ust Zulfikar) kami memulai menjelajahi Desa Merden ini. Aku dan seluruh teman temanku tidak mengetahui akan pergi dan menuju kemana, Ustadz Agus lah yang menjadi petunjuk arah. Setelah melewati jalan utama, kami berbelok menyusuri jalan setapak yang dirimbuni oleh pepohonan liar. Memasuki kebun setengah hutan suasana sepi dan pemandangannya pun membosankan.
Kami pun behenti
sejenak, melihat jalanan yang buntu. Mendengar gemuruh air, kami pun segera
mengambil jalan tikus. Aku sedikit tak berani menuruni jalanan tikus yang
becek, dengan perlahan aku pun mulai berjalan, dan akhirnya aku pun sampai di tepi
sungai. Sungai ini kotor berwarna coklat dan arusnya deras. Aku merasa tak
takjub dan sedikit kecewa. Karena bosan, kami pun lanjut menyusuri kembali
jalanan tikus.
Ting….. ternyata kami
muncul kembali di jalan utama, namun berbeda tempat dari tempat semula.
Perjalanan tidak hanya sampai disini, kami menyeberangi jalan utama dan masuk
ke sebuah jalan sedang yang beraspal. Aku pun penasaran dan menuruni jalan
tikus yang memelosok. Teman temanku pun mengikutiku dan kami menemui 2 buah
mata air yang jernih. Tanpa basa basi lagi aku turun ke salah satu mata air
yang tidak terlalu besar. Aku mengambil batok kelapa yang mengapug di kolam
mata air untuk dipergunakan sebagai gayung. Aku memulai membasahi tanganku. Tak
lama Jihan turun dan dengan langsung ia meminum air itu. Melihat Jihan yang
tampak ceria setelah meminum air itu, aku pun mencoba meminum airnya walau
hanya satu tegukan. Dan ternyata airnya sangat segar dan tak berasa.
Ustadz Agus terus
memanggil kami untuk segera mengakhiri bermain di mata air ini. Aku pun
membasuh muka dan langsung beranjak dari mata air itu. Melihat ke samping, ada
mata air lagi yang besarnya tak beda jauh dengan mata air yang tadi kami
kunjungi. Walu tak beda jauh, mata air itu sedikit ditutupi dengan sarang laba
laba dan di dalam airnya terdapat sabun batang. Aku pun merasa lega karena tidak
salah tempat meminum mata air..
Beranjak dari mata air,
kami menemui lanjutan sungai tadi, namun aku terkagum melihat sungainya yang
besar, lebar, dan arusnya lebih besar, ditambah dengan barisan tebing tebing
rendah yang ada di tepinya. Melewati tepian sungai, kami kembali melanjuti
perjalanan kami. Menyusuri jalanan aspal, kami menemui bak besar berisi air
yang berasal dari mata air. Setelah melihat lebih dekat, kami tak jadi
menikmati air itu karena airnya sudah berubah menjadi putih kebiru biruan.
Melit ke bawah, puluhan bungkus detergent dan sabun mandi berceceran. Dan hal
itu yang menyebabkan mata air yang tertampung dalam bak tercemar dan tak bisa
dikonsumsi lagi.
Merden memiliki banyak
sekali mata air, termasuk yang aku dan teman temanku kunjungi. Namun yang kami
kunjungi hanya sebagian kecil saja dan tak mewakili keindahan mata air yang
lain yang lebih indah. Yang unik dari Merden, setiap ada mata air, disampingnya
atau pun di dekatnya akan ada sebuah mushola. Maka tak asing lagi, bila kita
berkunjung di Merden banyak menemui mushola mushola sekalipun di tengah kebun.
Perjalanan ini hanyalah perjalanan awal aku di
Merden, masih banyak lagi kisah menyenangkan, mengharukan dan kisah warna warni
yang belum aku tuangkan…..
TO BE CONTINUE……..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar