Arsip Blog

Sabtu, 01 November 2014

kisah Me_Ji_Ku_Hi_Bi_Ni_U

Ini sekedar cerita remeh yang sempat aku tulis dulu.


Rumahku Kota Mati

Di siang yang redup, hentakkan kakiku terus mendorongku tuk mencari cari laundry yang buka. Jejakanku terkadang tersendat kala abu tebal ataupun kubangan air menjebakku. Kulihat di sekelilingku Nampak seperti kota mati. Abu berserakan dimana mana, hingga rumah, mobil, dan semua barang yang ada di jalan tertutupi oleh abu. Aku terus menelusuri  jalanan aspal, mencari dan mencari tempat laundry yang buka. Aku sempat kesal, karena semua tempat laundry yang kujumpai ternyata tutup. Sesekali, aku juga semakin kesal karena angin yang datang menyeok abu, aku pun sesekali kekelipan karenanya…

Siang ini, tak lebih parah dari pada tadi pagi. Karena tepat setelah aku terbangun dari tidurku, kira kira jam 4 pagi, temanku keluar rumah dan tiba tiba tas yang ia bawa terkena percikkan dan rintikkan abu. Setelah itu, Ummi Aeni keluar dari kamarnya, ia menjelaskan bahwa kejadian tadi menggambarkan suatu kejadian fenomena alam yaitu hujan abu dari letusan Gunung Kelud di Kediri. Aku pun terkaget kaget mendengarnya dan langsung bersegera mengambil slayer dan langsung menuju sekolah.

Ketika aku mulai mengikatkan slayer ke hidungku, seketika aku merasa nafasku kurang enak dan slayernya pun berbau aneh. Ini mungkin terjadi, karena aku tak terbiasa memakai slayer. Aku pun melepaskan slayer dari ikatannya dan menyimpannya di saku kecil jilbabku. Aku berjalan kembali sambil menutupi hidungku dengan kerudung. Namun sesekali aku sering membukanya kembali.

Tak berapa lama, satu persatu langkahku telah menyampaikanku pada tempat tujuanku, yaitu sekolah. Nampak teras depan sekolahku sedikit ditutupi abu. Aku pun segera melepaskan sandal yang melekat di kakiku dan seketika aku pun langsung masuk ke sekolahku untuk sholat shubuh. Aku merasa tak nyaman saat itu dengan kaus kakiku, lalu aku mengangkat kaki danmelihatnya, ternyata kaus kaki yang asalnya berwarna hitam berubah menjadi warna putih.
 
Dendang suara iqomat pun terdengar, aku pun langsung merapikan barisanku dengan orang disampingku. Setelah usai sholat, Abah Yoyok pun langsung membuka forum pengumuman. Di dalam forum itu, Abah memberi pengumuman bahwa kelas 7 dan 8 diberi tugas pagi ini untuk mencari abu. Nantinya abu ini akan digunakan untuk percobaan. Kami pun bergegas keluar. Ternyata, di luar sana, hujan abu turun lumayan deras, tapi semangat yang terus membara di diri kami, mengalahkan kekhawatiran dan resiko itu. Kami pun mengambil abu abu, baik yang ada di daun, ataupun di jalanan aspal. Hujan kian turun deras dan Abah memerintahkan untuk mengakhiri pekerjaan tersebut dan menyuruh kami pulang. Sebelum itu, kami ke sekolah terlebih dahulu untuk mengambil tas. Kegiatan mengumpulkan abu, melelahkan dan membuat jilbab dan kerudung sekaligus tas menjadi kotor karena abu. Ditambah lagi, cucianku yang menumpuk, lalu rumah yang ketutupan abu, membuat aku susah untuk mencuci, jadi aku memutuskan untuk laundry.

Aku melihat ke jam, ternyata sudah jam 8 pagi, tapi matahari tak kunjung dating. Sehingga pagi ini terasa seperti jam 6 pagi. Aku pun buru buru masak, karena takut akan terlambat masuk sekolah. Di tengah kekhawatiran belum makan dan mandi, Abah member tahu bahwa hari ini libur. Kami pun teriak senang kegirangan. Rumahku memiliki sebuah ruang pembatas yang itu tak ada atapnya. Abu pun masuk ke kamar lagi. Ruang ini juga kami gunakan untuk pergi ke tempat satu dengan lainnya, setiap kami melewatinya, abu mengenai rambut kami dan itu membuat rambut kami keras seperti sapu ijuk. Hujan abu pun reda, dan turunlah hujan seperti biasanya, namun tetap saja, hujan ini bercampur dengan abu. Belum lagi, abu yang berserakan itu pasti akan menjadi lumpur lumpur yang lembek ketika turun hujan. Namun sekiranya, ini lebih baik dari tadi pagi.




----------------------------------------------



                     EKONOMI MASYARAKAT SUROLOYO


Suroloyo adalah sebuah perbukitan tinggi di wilayah Kulonprogo, Yogyakarta.  Dengan ketinggian 1050 mdpl juga iklim pegunungan tropis menjadikan Suroloyo sebagai lahan berbagai tanaman, terutama tanaman yang cocok hidup di iklim dingin ini, seperti teh, kopi, cengkeh dan kopi. Maka otomatis, dengan sumber daya alam yang melimpah, masyarakat sekitar pegunungan Suroloyo memanfaatkannya sebagai salah satu industry yang menghasilkan nilai harga jual yang tinggi.

Pemanfaatan sumber daya alam Suroloyo ini jumlahnya banyak, seperti: pembuatan minyak atsiri, pembuatan kopi suroloyo, pembuatan teh  suroloyo, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, santri putri Taruna Panatagama pada tanggal 17-18 September 2014 mengunjungi industri industri tersebut: 

1.   Industri Kopi Suroloyo

Sejak tahun 2000, Pak Windarso beserta keluarganya telah mengenali kopi Suroloyo, Mereka menggunakan cara yang tradisional agar dapat menikmati kopi Suroloyo, yaitu dengan memasaknya memakai wajan. Setelah sekian lama mengamati pola kerja petani kopi Suroloyo, Pak Windarso dengan teman temannya merasa petani kopi Suroloyo tidak dihargai. Harga jual kopi Suroloyo yang khas itu hanya bernilai Rp.20.000 saja per kilonya. 


kopi suroloyo
Maka di tahun 2009, petani petani yang melakukan usaha secara individu bergabung bersama Pak Windarso dan teman temannya menjadi sebuah kelompok, yaitu kelompok tani.  Masyarakat Kulonprogo sekitar bukit Suroloyo umumnya memiliki pohon kopi. Dengan lahan yang mereka miliki setiap anggotanya, mereka mulai menjalani usaha kopi Suroloyo. Lahan tersebut mereka gunakan sebagai modal pertama, lalu mereka olah sendiri dan jual sendiri. Lalu keuntungan dari penjualan kopi mereka gunakan kembali untuk modal selanjutnya. Dan di tahun 2011, mereka mengajukan proposal kepada pemerintah dengan beratasnamakan kelompok tani. Dan akhirnya pemerintah memberi sejumlah alat.

Kopi Suroloyo memiliki 2 jenis, yaitu robusta dan arabika. Arabika lebih banyak diminati karena keasamannya yang lebih rendah dan kafeinnya yang rendah membuat penikmatnya terasa lebih fresh karena tidak membuat rasa kantuk. Sedangkan robusta memiliki rasa yang lebih pahit dan sama sama mengurangi rasa kantuk. Tanaman kopi Suroloyo juga dipanen 1 kali 1 tahun selama 3 bulan.

Pak Windarso bersama ketujuh temannya menggunakan biji kopi pilihan, yaitu berwarna merah yang mereka beli Rp.4500 per kilonya dari petani kopi. Namun, seringkali mereka mendapatkan biji kopi yang hijau, karena petani yang kepepet ingin segera mendapatkan uang.

Setelah mendapatkan kopi, dimulailah proses proses pembuatan kopi bubuk Suroloyo. Kopi yang memiliki 3 lapisan, yaitu kulit ceri, kulit cangakang dan kulit ari lalu baru dagingnya, dihilangkan kulit cerinya menggunakan alat giling. Setelah itu, biji kopi direndam selam 12 jam dan setiap 3 jam sekali  air diganti. Tujuan dari perendaman ini adalah mengurangi keasaman dari kopi tersebut. Perendaman dilanjutkan dengan penjemuran di bawah sinar matahari selama 5 hari. 

Setelah kering, biji kopi diimbuh selam 2 bulan. Tujuannya adalah menstabilisasi dan menetralisir khasiat kopi tersebut. Lalu, biji kopi tersebut digiling kembali untuk menghilangkan kulit cangkang dan kulit arinya.. Pemprosesan pun dilanjutkan dengan memilah kopi yang bagus dan yang tidak bagus karena cacat.      


my poetry



ILMU

Ku tempuh liku menggapaimu
Ku kerahkan segala tenagaku
Ku kerahkan pula segala kemampuanku
Demi menggapaimu
                                    Betapa anggun perangaimu
                                    Hingga kau hempaskan bumi ini
                                    Dengan helaan nafas nafas ilmu

Dan pada saat itulah
Beribu manusia berlari menggapaimu
Dan bepuluh puluh ribu manusia sibuk menanganimu

                                    Tanpamu…..
                                    Ku takkan mengenal seisi jagad raya ini
                                    Dunia telah putus dari hidupku
                                    Ku ratapi segalanya dengan keheningan
                                    Ku berada dalam jurang kegelapn
                                    Yang menenggelamkanku dalam keheningan
Namun….
Kau muncul dalm hidupku
Kau tampakkan keindahanmu
Walau kau takkan pernah menampakkan wajahmu
                                  Denganmu….
                                  Ku mengenal segalanya
                                  Dan denganmu ku mengenal siapa penciptaku