Menelusuri Jejak Islam di DIY
Kini, jejak santri Taruna
Panatagama telah mendekati situs bersejarah di wilayah Kotagede. Tepatnya pada
hari Senin,17 Maret 2014.Dalam rangka dayly project tarikh dan bersamaan dengan
materi yang diajarkan yakni “Peradaban Nusantara”(khususnya DIY), pihak sekolah
sebagai penyelenggara, mengajak santri agar lebih mengetahui jelas peninggalan
dan jejak jejak Islam di DIY melalui penelusuran di Masjid Mataram Islam –
Masjid Kauman – dan Makam raja raja di Imogiri.
Pertama,
Santri Taruna Panatagama mengunjungi Masjid mataram Kotagede. Dahulu wilayah
ini merupakan wilayah kraton Mataram Islam pra Panembahan Senopati Ingalogo
Abdurrahman Sayyidin Panatagama. Wilayah kraton terdiri dari masjid di sebelah
barat, alun alun sebelah utara dan ditengah tengahnya kraton sendiri.
Peninggalan yang masih ada yakni masjid salah satunya. Di sekitar masjid,
terdapat sendang (tempat pemandian) dan makam. Karena adanya sinkretisme,
masyarakat sekitar kraton, membuat peraturan bahwa jika ingin memasuki makam,
bagi wanita harus memakai pakaian “kemben”. Pernyataan ini telah jelas tertera
di dinding rumah rumah kayu (sanggar).
Setelah puas menelusuri situs
bersejarah di sekitar masjid, santri Taruna Panatagama melanjutkan
perjalanannya kea rah selatan masjid. Dalam perjalanan kami menemui sebuah
cepuri (benteng kraton) yang telah termakan usia, juga batu gilang yang menjadi
tujuan utama perjalanan. Dengan ditemani oleh juru kunci batu gilang, santri
Taruna Panatagama bisa melihat sekaligus mendengar tentang sejarah batu gilang
tersebut. Batu gilang merupakan singgasana raja, dimana raja biasa menemui para
tamunya.
Ketiga,
santri taruna Panatagama mengunjungi makam raja raja mataram di bukit Imogiri.
Dimakam ini terdapat kurang lebih 24 raja termasuk Sultan Agung.
-------------------------------------------------
MONJALI
Sayang sekali, jika kita
berkunjung ke Monjali alias Monumen Jogja Kembali di pagi hari. Di pagi hari,
kita hanya bisa menikmati wisata sejarahnya. Jika malam, Monjali berubah
menjadi kawasan lampion
berwarna warni. Jika
memang kita menyukai wisata sejarah, tak masalah bila datang ke sini. Tempat
ini memiliki sebuah monumen yang bentuknya unik, yaitu kerucut. Di dalam
monumen tersebut terdapat 3 lantai yang difasilitasi dengan lift.
Di
lantai pertama, kita bisa melihat museum I-IV. Pada museum I terdapat ornament
ornament kapal perang, peta pembagian wilayah Jawa, dan lain lain. Pada museum
II terdapat sebuah patung gambaran tempat pemasakan jaman dahulu, patung
gambaran PMI, dan lain lain.. Pada museum III terdapat walky talky, topi anti
peluru, kursi tamu, dan kursi yang digunakan Hamengkubwono IX. Dan terakhir di
museum IV terdapat ranjang tempat tidur yang pernah digunakan Soekarno. Selain
itu, di lantai dasar juga terdapat tempat persidangan jaman dulu. Persis,
kursinya pun masih bernuansa jadul.
Di
lantai kedua, kita bisa melihat diorama diorama yang menggambarkan penyerangan
Belanda ke Yogyakarta serta pembentukan pasukan Gerilya. Setiap kejadian
penting digambarkan melalui sebuah patung bergambar orang orang beserta tempat
kejadian di dalam kaca. Tak lupa, untuk menerangkan lebih jelas peristiwa
tersebut, ada keterangan tulisan di luar kaca dan ada suara yang membacakan
kejadian tersebut.
Jika kita melihat satu persatu diorama, maka kita akan terbawa berkeliling. Mengapa? Karena ruangan ini membentuk kerucut yang bagian bawahnya membentuk lingkaran. Dan pada akhirnya akan kembali ke tempat semula yaitu, pintu masuk.
Jika kita melihat satu persatu diorama, maka kita akan terbawa berkeliling. Mengapa? Karena ruangan ini membentuk kerucut yang bagian bawahnya membentuk lingkaran. Dan pada akhirnya akan kembali ke tempat semula yaitu, pintu masuk.
Merasa
penasaran dengan lantai yang paling atas, coba saja kita rasakan sendiri. Di
lantai III hanya terdapat tiang bendera dan patung pahlawan. Di pintu masuknya
menjelaskan bahwa tempat ini, adalah tempat mendoakan arwah arwah para
pahlawan. Namun, ketika sampai di lantai III aku merasa terheran heran, karena
tempat itu, hanyalah tempat yang kosong.
Referensi: brosur Museum dan blog Museum Prabu Geusan Ulun
--------------------------------------------------
Museum Prabu Geusan Ulun
Perjalananku menelusuri sejarah
Sumedang mungkin hanya sebatas mengunjungi museum dan mengsearch informasi
informasi tersebut. Sebelum
pergi ke museum aku telah membaca sedikit pengantar tentang museum tersebut.
Dan setelah itu aku baru beranjak pergi ke museum.
Museum
di Kabupaten Sumedang hanya ada satu, yaitu Museum Prabu Geusan Ulun. Museum
ini berada di Jl. Prabu Geusan Ulun no.40 atau lebih mudahnya terletak di pusat kota sebelah selatan alun
alun berdekatan dengan gedung Negara, kediaman Bupati Sumedang. Tiket masuknya
berkisar 2000 untuk anak anak dan berkisar 3000 untuk dewasa. Dengan ditemani
oleh Ibu Iis selaku salah satu kerabat raja raja terdahulu, saya dituntun
mengelilingi museum tersebut, beliau pun seringkali menjelaskan hampir seluruh
sejarah benda benda yang ada di museum Prabu Geusan Ulun.
Museum
ini sepenuhnya dikelola oleh keluarga raja, pemerintah hanya sedikit membantu
kepengurusannya. Museum Prabu Geusan Ulun terdiri dari 6 bangunan.
Bangunan pertama
yaitu gedung Srimanganti. Gedung ini terletak di pintu masuk. Gedung
Srimanganti sudah dibangun sejak masa Bupati Tanumadja yaitu bupati pertama di
massa keterpengaruhan terhadap VOC di tahun 1706 M. Dahulu, gedung ini
berfungsi sebagai auditorium dan tempat
pagelaran seni lebing klasik. Bahkan sampai sekarang, di bagian depan bangunan
ini dipergunakan untuk latihan kesenian gamelan setiap hari Sabtu – Minggu. Diantara
peninggalan bersejarah kerajaan Sumedang larang, di sini juga terdapat foto
lukisan para raja dan barang barang kuno. Dintaranya adalah:
1.
Foto foto para Bupati Sumedang
2. Baju baju kebesaran Bupati Sumedang tempo dulu,
diantaranya milik Pangeran Mekkah.
3. Seperangkat meja makan, meja kerja, sketsel dan
lemari ukiran jepara peninggalan Pangeran Aria Soeria Atmaja.
4. Tempat tidur, bad cover dan meja marmer
peninggalan Pangeran Kornel yaitu Pangeran di massa kekuasaan Belanda (1791 – 1828) namun masih keturunan langsung leluhur
Sumedang
5. Uang uang kuno, dll
Sedikit cerita Pangeran Mekkah , nama aslinya ialah
Pangeran Soeria Atmaja yaitu salah satu raja yang menjabat di massa kekuasaan
Belanda (1882 – 1919) dan masih keturunan langsung leluhur Sumedang. Diberi
gelar Pangeran Mekkah karena sewaktu berhaji di Mekkah, ia meninggal di tanah
suci tersebut dan jasadnya pun dikubur di Mekkah.
Bangunan kedua yaitu gedung
Bumi Kaler. Gedung ini dibuat pada tahun 1850 sebagai tempat kediaman Bupati.
Di buat dari bahan kayu jati, rumah panggung tersebut berbentuk Julang Ngapak.
Bangunan ini mengalami rehabilitasi pada tahun 1982, 1993 dan 2010. Digedung
bumi kaler ini, kami menemui koleksi koleksi museum, diantaranya adalah:
·
Silsilah keluarga raja raja Sumedang Larang
·
Salah satu foto keturunan raja yang menikah dan
memakai mahkota raja
·
3 ekor harimau lodaya
·
Tempat penyelanggaraan khitan massa raja kuno
·
Tulisan arab tentang sejarah Sumedang,dll
·
Al quran tulisan tangan tulisan salah satu raja
Sumedang Larang
·
Lukisan Pangeran Kornel
·
Al quran terjemahan sunda dalam tulisan arab
·
Keris keris raja, dll
Bangunan ketiga yaitu gedung
Gendeng. Gedung Gendeng ini dibangun tahun 1850. Dahulu bangunan ini berfungsi sebagai ttempat
penyimpanan bebda benda pusaka, karena ruangan ini tidak lagi memadai, akhirnya
dibangunlah gedung pusaka. Gedung Gendeng mengalami renovasi pada tahun 1950-an,
1993 dan 2010. Walau sebagian besar pusaka telah dipindahkan ke Gedung Pusaka,
Gedung gendeng juga masih menyimpan beberapa pusaka dan koleksi koleksi museum
lainnya, diantaranya adalah:
·
Meriam meriam yang digunakan melawan VOC
·
Beberapa keris, dll
Bangunan keempat yaitu
gedung Pusaka. Gedung ini dibangun pada tahun 1990. Peletakan batu pertama
dilakukan oleh Ny. Ratih Natawidja. Diantara pusaka pusaka Sumedang antara lain
adalah:
·
Mahkota Binokasih dan Siger dari emas 18 karat
·
Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tadji Malela
pendiri kerajaan Sumedang Larang
·
Keris Ki Dukun, milik Prabu Gajah Agung yaitu raja keempat (893 – 998)
·
Badik
Curuk Aul, milik Embah Jaya Perkosa (Sayanghawu) abad ke 16
·
Keris
Panunggul Naga, milik Prabu Geusan Ulun abad ke 16
·
Keris
Nagasasra, milik Pangeran Kornel (P. Koesoemadinata IX) abad ke 18
· Keris Nagasasra,milik Pangeran Panembahan yaitu
salah satu bupati pada masa keterpengaruhan mataram abad ke 17
· Keris keris, pedang pedang, tombak tombak, dan
pusaka lainnya zaman Padjajaran dan Sumedang Larang
· Barang barang milik P. Aira Soeria Atmadja dan
P. Soegih (P. Soeria Kusumah Adinata, yaitu salah satu bupati massa
keterpengaruhan Belanda). Hadiah dari kerajaan Belanda
· Berbagai bentuk kujang Padjajaran
· Berbagai macam Gobang, Keris zaman Padjajaran
dan Sumedang Larang
Bangunan kelima yaitu gedung
Gamelan. Bangunan ini dibuat pada tahun 1973 dan mengalami rehabilitasi di
tahun 1993 dan 2010. Dalam gedung ini disimpan macam macam gamelan, perolehan
dari mataram maupun yang dibuat di daerah sendiri, antara lain:
· Sari Oneng Parakan Salak (abad ke19). Pernah
dipamerkan di Amsterdam (1883), Paris (1889), dalam rangka promosi The sedunia
·
Sari Oneng Mataram (abad ke17) peninggalan
Pangeran Panembahan
·
Wayang, dll
Bangunan terakhir yaitu Gedung
Kereta. Gedung ini dibangun pada tahun 1996. Dalm gedung ini disimpan berbagai
kereta, antara lain adalah:
· Kereta Naga Paksi yang merupakan peninggalan
Aria Soeria Kusumah Adinata (P.Soegih), Bupati Sumedang tahun 1836 dan 1882.
Kereta ini dipergunakan untuk upacara kebesaran. Kereta ini juga tidak didorong
oleh kuda, namun dipanggul oleh 6 orang. Mengalami rehabilitasi pada tahun 1998
di Cirebon
·
Keretek (kereta yang digunakan untuk mengangkut
barang)
·
Andong
Referensi: brosur Museum dan blog Museum Prabu Geusan Ulun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar