Arsip Blog

Rabu, 29 Oktober 2014

menapaki sejarah


                    Menelusuri Jejak Islam di DIY

Kini, jejak santri Taruna Panatagama telah mendekati situs bersejarah di wilayah Kotagede. Tepatnya pada hari Senin,17 Maret 2014.Dalam rangka dayly project tarikh dan bersamaan dengan materi yang diajarkan yakni “Peradaban Nusantara”(khususnya DIY), pihak sekolah sebagai penyelenggara, mengajak santri agar lebih mengetahui jelas peninggalan dan jejak jejak Islam di DIY melalui penelusuran di Masjid Mataram Islam – Masjid Kauman – dan Makam raja raja di Imogiri.

Pertama, Santri Taruna Panatagama mengunjungi Masjid mataram Kotagede. Dahulu wilayah ini merupakan wilayah kraton Mataram Islam pra Panembahan Senopati Ingalogo Abdurrahman Sayyidin Panatagama. Wilayah kraton terdiri dari masjid di sebelah barat, alun alun sebelah utara dan ditengah tengahnya kraton sendiri. Peninggalan yang masih ada yakni masjid salah satunya. Di sekitar masjid, terdapat sendang (tempat pemandian) dan makam. Karena adanya sinkretisme, masyarakat sekitar kraton, membuat peraturan bahwa jika ingin memasuki makam, bagi wanita harus memakai pakaian “kemben”. Pernyataan ini telah jelas tertera di dinding rumah rumah kayu (sanggar).

Setelah puas menelusuri situs bersejarah di sekitar masjid, santri Taruna Panatagama melanjutkan perjalanannya kea rah selatan masjid. Dalam perjalanan kami menemui sebuah cepuri (benteng kraton) yang telah termakan usia, juga batu gilang yang menjadi tujuan utama perjalanan. Dengan ditemani oleh juru kunci batu gilang, santri Taruna Panatagama bisa melihat sekaligus mendengar tentang sejarah batu gilang tersebut. Batu gilang merupakan singgasana raja, dimana raja biasa menemui para tamunya.

Kedua, santri Taruna Panatagama mengunjungi  masjid kauman di Pleret. Banyak peninggalan di sekitar masjid Kauman, Karen dahulu wilayah ini merupakan bagian dari kraton kerajaan Mataram Islam yang dipindah dari Kotagede ke Pleret ini. Santri Taruna Panatagama melihat kebelakang masjid Kauman ini, terdapat puing puing masjid Kraton juga bekas tiang pancung. Konon katanya, ad pohon yang usianya sekitar usia kraton di Pleret ini. Maka dari itu, polisi membuat garis kuning polisi di sekitar pohon, karena takut akan dimanfaatkan warga sekitar. Dan untuk menjaga pohon yang menjadi saksi atas kerajaan Mataram Islam pra Amangkurat I.

Ketiga, santri taruna Panatagama mengunjungi makam raja raja mataram di bukit Imogiri. Dimakam ini terdapat kurang lebih 24 raja termasuk Sultan Agung.



-------------------------------------------------




MONJALI


Sayang sekali, jika kita berkunjung ke Monjali alias Monumen Jogja Kembali di pagi hari. Di pagi hari, kita hanya bisa menikmati wisata sejarahnya. Jika malam, Monjali berubah menjadi kawasan lampion berwarna warni. Jika memang kita menyukai wisata sejarah, tak masalah bila datang ke sini. Tempat ini memiliki sebuah monumen yang bentuknya unik, yaitu kerucut. Di dalam monumen tersebut terdapat 3 lantai yang difasilitasi dengan lift.

Di lantai pertama, kita bisa melihat museum I-IV. Pada museum I terdapat ornament ornament kapal perang, peta pembagian wilayah Jawa, dan lain lain. Pada museum II terdapat sebuah patung gambaran tempat pemasakan jaman dahulu, patung gambaran PMI, dan lain lain.. Pada museum III terdapat walky talky, topi anti peluru, kursi tamu, dan kursi yang digunakan Hamengkubwono IX. Dan terakhir di museum IV terdapat ranjang tempat tidur yang pernah digunakan Soekarno. Selain itu, di lantai dasar juga terdapat tempat persidangan jaman dulu. Persis, kursinya pun masih bernuansa jadul.

Di lantai kedua, kita bisa melihat diorama diorama yang menggambarkan penyerangan Belanda ke Yogyakarta serta pembentukan pasukan Gerilya. Setiap kejadian penting digambarkan melalui sebuah patung bergambar orang orang beserta tempat kejadian di dalam kaca. Tak lupa, untuk menerangkan lebih jelas peristiwa tersebut, ada keterangan tulisan di luar kaca dan ada suara yang membacakan kejadian tersebut.

Jika kita melihat satu persatu diorama, maka kita akan terbawa berkeliling. Mengapa? Karena ruangan ini membentuk kerucut yang bagian bawahnya membentuk lingkaran. Dan pada akhirnya akan kembali ke tempat semula yaitu, pintu masuk.

Merasa penasaran dengan lantai yang paling atas, coba saja kita rasakan sendiri. Di lantai III hanya terdapat tiang bendera dan patung pahlawan. Di pintu masuknya menjelaskan bahwa tempat ini, adalah tempat mendoakan arwah arwah para pahlawan. Namun, ketika sampai di lantai III aku merasa terheran heran, karena tempat itu, hanyalah tempat yang kosong.


--------------------------------------------------







Museum Prabu Geusan Ulun

Perjalananku menelusuri sejarah Sumedang mungkin hanya sebatas mengunjungi museum dan mengsearch informasi informasi tersebut. Sebelum pergi ke museum aku telah membaca sedikit pengantar tentang museum tersebut. Dan setelah itu aku baru beranjak pergi ke museum.

Museum di Kabupaten Sumedang hanya ada satu, yaitu Museum Prabu Geusan Ulun. Museum ini berada di Jl. Prabu Geusan Ulun no.40 atau lebih mudahnya  terletak di pusat kota sebelah selatan alun alun berdekatan dengan gedung Negara, kediaman Bupati Sumedang. Tiket masuknya berkisar 2000 untuk anak anak dan berkisar 3000 untuk dewasa. Dengan ditemani oleh Ibu Iis selaku salah satu kerabat raja raja terdahulu, saya dituntun mengelilingi museum tersebut, beliau pun seringkali menjelaskan hampir seluruh sejarah benda benda yang ada di museum Prabu Geusan Ulun.

Museum ini sepenuhnya dikelola oleh keluarga raja, pemerintah hanya sedikit membantu kepengurusannya. Museum Prabu Geusan Ulun terdiri dari 6 bangunan.

         Bangunan pertama yaitu gedung Srimanganti. Gedung ini terletak di pintu masuk. Gedung Srimanganti sudah dibangun sejak masa Bupati Tanumadja yaitu bupati pertama di massa keterpengaruhan terhadap VOC di tahun 1706 M. Dahulu, gedung ini berfungsi  sebagai auditorium dan tempat pagelaran seni lebing klasik. Bahkan sampai sekarang, di bagian depan bangunan ini dipergunakan untuk latihan kesenian gamelan setiap hari Sabtu – Minggu. Diantara peninggalan bersejarah kerajaan Sumedang larang, di sini juga terdapat foto lukisan para raja dan barang barang kuno. Dintaranya adalah:
                                           
1.       Foto foto para Bupati Sumedang
2.      Baju baju kebesaran Bupati Sumedang tempo dulu, diantaranya milik Pangeran Mekkah.
3.    Seperangkat meja makan, meja kerja, sketsel dan lemari ukiran jepara peninggalan Pangeran Aria Soeria Atmaja.
4.    Tempat tidur, bad cover dan meja marmer peninggalan Pangeran Kornel yaitu Pangeran di massa  kekuasaan Belanda (1791 – 1828) namun masih keturunan langsung leluhur Sumedang
5.     Uang uang kuno, dll


         Sedikit cerita Pangeran Mekkah , nama aslinya ialah Pangeran Soeria Atmaja yaitu salah satu raja yang menjabat di massa kekuasaan Belanda (1882 – 1919) dan masih keturunan langsung leluhur Sumedang. Diberi gelar Pangeran Mekkah karena sewaktu berhaji di Mekkah, ia meninggal di tanah suci tersebut dan jasadnya pun dikubur di Mekkah.

Bangunan kedua yaitu gedung Bumi Kaler. Gedung ini dibuat pada tahun 1850 sebagai tempat kediaman Bupati. Di buat dari bahan kayu jati, rumah panggung tersebut berbentuk Julang Ngapak. Bangunan ini mengalami rehabilitasi pada tahun 1982, 1993 dan 2010. Digedung bumi kaler ini, kami menemui koleksi koleksi museum, diantaranya adalah:

·       Silsilah keluarga raja raja Sumedang Larang
·       Salah satu foto keturunan raja yang menikah dan memakai mahkota raja
·       3 ekor harimau lodaya
·       Tempat penyelanggaraan khitan massa raja kuno
·       Tulisan arab tentang sejarah Sumedang,dll
·       Al quran tulisan tangan tulisan salah satu raja Sumedang Larang
·       Lukisan Pangeran Kornel
·       Al quran terjemahan sunda dalam tulisan arab
·       Keris keris raja, dll

Bangunan ketiga yaitu gedung Gendeng. Gedung Gendeng ini dibangun tahun 1850.  Dahulu bangunan ini berfungsi sebagai ttempat penyimpanan bebda benda pusaka, karena ruangan ini tidak lagi memadai, akhirnya dibangunlah gedung pusaka. Gedung Gendeng mengalami renovasi pada tahun 1950-an, 1993 dan 2010. Walau sebagian besar pusaka telah dipindahkan ke Gedung Pusaka, Gedung gendeng juga masih menyimpan beberapa pusaka dan koleksi koleksi museum lainnya, diantaranya adalah:

·      Meriam meriam yang digunakan melawan VOC
·      Beberapa keris, dll

Bangunan keempat yaitu gedung Pusaka. Gedung ini dibangun pada tahun 1990. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Ny. Ratih Natawidja. Diantara pusaka pusaka Sumedang antara lain adalah:

·      Mahkota Binokasih dan Siger dari emas 18 karat
·      Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tadji Malela pendiri kerajaan Sumedang Larang
·      Keris Ki Dukun, milik Prabu Gajah Agung yaitu raja keempat (893 – 998)
·      Badik Curuk Aul, milik Embah Jaya Perkosa (Sayanghawu) abad ke 16
·      Keris Panunggul Naga, milik Prabu Geusan Ulun abad ke 16
·      Keris Nagasasra, milik Pangeran Kornel (P. Koesoemadinata IX) abad ke 18
·    Keris Nagasasra,milik Pangeran Panembahan yaitu salah satu bupati pada masa keterpengaruhan mataram abad ke 17
·     Keris keris, pedang pedang, tombak tombak, dan pusaka lainnya zaman Padjajaran dan Sumedang Larang
·     Barang barang milik P. Aira Soeria Atmadja dan P. Soegih (P. Soeria Kusumah Adinata, yaitu salah satu bupati massa keterpengaruhan Belanda). Hadiah dari kerajaan Belanda
·       Berbagai bentuk kujang Padjajaran
·       Berbagai macam Gobang, Keris zaman Padjajaran dan Sumedang Larang

Bangunan kelima yaitu gedung Gamelan. Bangunan ini dibuat pada tahun 1973 dan mengalami rehabilitasi di tahun 1993 dan 2010. Dalam gedung ini disimpan macam macam gamelan, perolehan dari mataram maupun yang dibuat di daerah sendiri, antara lain:


·     Sari Oneng Parakan Salak (abad ke19). Pernah dipamerkan di Amsterdam (1883), Paris (1889),   dalam rangka promosi The sedunia
·       Sari Oneng Mataram (abad ke17) peninggalan Pangeran Panembahan
·       Wayang, dll

Bangunan terakhir yaitu Gedung Kereta. Gedung ini dibangun pada tahun 1996. Dalm gedung ini disimpan berbagai kereta, antara lain adalah:

·    Kereta Naga Paksi yang merupakan peninggalan Aria Soeria Kusumah Adinata (P.Soegih), Bupati Sumedang tahun 1836 dan 1882. Kereta ini dipergunakan untuk upacara kebesaran. Kereta ini juga tidak didorong oleh kuda, namun dipanggul oleh 6 orang. Mengalami rehabilitasi pada tahun 1998 di Cirebon
·       Keretek (kereta yang digunakan untuk mengangkut barang)
·       Andong

Referensi: brosur Museum dan blog Museum Prabu Geusan Ulun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar