Nasib Petani Imogiri
Dalam
sesuap nasi yang kita makan, menyimpan sejuta kisah pengabdian yang
mengharukan, terutama bagi para petani di wilayah Imogiri Yogyakarta. Wilayah yang masih asri
dengan rerimbunan padi dan pemandangan bukit hijau yang sudah tak asing lagi.
Di
pagi hari, suara decakan cangkul baik pa tani ataupun bu tani sudah menjadi pemandangan
yang tak asing lagi. Apalagi ditambah dengan sejuknyan udara di pagi hari yang
semakin menambah eloknya pedesaan ini.
Lahan
yang beribu-ribu
hektar menghampar luas, tidak menjadikan masyarakat Imogiri memiliki lahan pesawahan
tersebut. Namun, kebanyakan mereka hanyalah seorang buruh yang dipekerjakan.
Pekerjaan mereka yaitu, menggarap lahan milik orang keturunan ningrat. Bahkan,
kepemilikan lahan keturunan ningrat ini masih terus menjajahi wilayah
persawahan Imogiri.
Setiap
tahun, para petani bisa memanen padi 3 hingga 4 kali. Padi yang mereka
kembangbiakan yaitu jenis padi berklas menengah yang harganya pun Rp 8.300,00 per kilonya. Jadi wajar
saja, bila wilayah tersebut tidaklah terkenal dalam memproduksi tanaman pangan ini.
Pada
masa tanam, para petani mulai menggarap lahan. Tahap pertama yaitu: pemberian
pupuk. Pupuk yang digunakan adalah TS dan Urea. Dalam pembelian pupuk, memakai
satuan sak, padahal kebutuhan para petani tidak sebanding dengan ukuran itu.
Maka dari itu, mereka menilai pupuk-pupuk yang dijual Rp 100.000,- per saknya harganya
cukup mahal. Tahap kedua yaitu: dibajak sekaligus digarisi. Dalam membajak
lahan, para petani tidak membajaknya sendiri karena tidak memiliki traktor.
Jadi, mereka pun terpaksa mengeluarkan uang Rp 127.000,- untuk menggunakan jasa
traktor.
Hama
pun nyatanya menjadi sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan para petani.
Pasalnya, hama tak pernah sekalipun absen dalam mengacaukan pekerjaan petani.
Sebagai contoh yaitu hama wereng yang senang menggerogoti akar padi, sehingga padi pun akan cepat rusak bila wereng
tersebut tidak
segera dibasmi. Maka dengan berat hati, para petani pun membasminya dengan
semprotan yang dibeli per botolnya Rp 30.000,-
Di
saat daun padi menguning, inilah saat saat dimana para petani bisa segera
mendapat uang hasil jerit payah mereka, yaitu masa panen. Namun, bila ingin
harga jual lebih tinggi, para petani harus mengolah gabah-gabah yang telah di panen
menjadi butiran beras beras, yaitu dengan cara menjemur gabah gabah tersebut
sampai kering sekitar 3 hari.
Ternyata
hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan usaha para petani. Karena untuk
modalnya saja mereka menghabiskan biaya sekitar 40 % dari pendapatannya sekitar
Rp 675.000,-. Belum lagi, mereka harus menerapkan sistem bagi
hasil pada pemilik lahan yang menjadi sebuah perjanjian antara kedua pihak.
Tentunya,
dari penelusuran ini, kita bisa membayangkan sendiri bagaimana kesengsaraan
para petani kita, yaitu para petani yang menjamin keberlangsungan pasokan
pangan rakyat Indonesia. Apalagi, di tambah dengan peran pemerintah yang sangat
jarang memberi bantuan bagi para petani kita.
---------------------------------------------------------
DIBALIK SEJUTA KEINDAHAN BANSARI
Desa Bansari
berada di kecamatan Temanggung, Jawa Tengah. Desa ini merupakan desa teratas
yang berada di kaki gunung Sindoro. Wilayah ini sangatlah eksotis dari segi
pemandangannya. Di pagi hari udara sangat sejuk, selain itu kita dengan mudah
bisa melihat barisan bukit-bukit. Sekaligus pemandangan gunung sumbing dan
sindoro yang terlihat lebih dekat dan sangat menawan hanya dengan melihat di
atas loteng-loteng rumah penduduk Desa Bansari.
Dengan kualitas udara yang
baik, terutama di musim panas, daerah ini cocok ditanami sayur-sayuran. Bahkan
yang sangat terkenal, daerah ini merupakan penghasil tembakau terbesar di
Indonesia pada musim panas. Maka dari itu, dengan tanah yang subur, dan segala
faktor yang mendukung, menjadikan daerah ini sering disebut daerah
holtikultura. Yaitu daerah yang membudidayakan tanaman perkebunan dan
persawahan.
EKONOMI PENDUDUK BANSARI
Dengan lahan
yang cocok untuk ditanami tanaman perkebunan dan persawahan, tak salah lagi,
mayoritas masyarakat di sekitar daerah Bansari berprofesi sebagai petani.
Selain karena faktor alam, profesi sebagai petani merupakan profesi yang
digeluti karena keturunan. Lahan yang begitu luas, tidak menjadikan semua
petani memiliki lahan, hanya sebagian saja yang memang memiliki lahan sekaligus
menjadi penggarap. Yang lain, sudah tentu, menjadi penggarap.
Di
bulan April, seluruh petani di kaki gunung Sindoro serempak menanam tanaman
tembakau yang menjadi komoditas utama. Sebagai media tanamnya, mereka
menggunakan pupuk alami yang dicampur dengan tambahan pupuk kimia. Pupuk alami
yang digunakan adalah pupuk kandang. Pupuk kandang ini tidak diproduksi
masyarakat sekitar, jadi otomatis mereka pun harus membeli pupuk di daerah yang
memproduksi pupuk kandang, salah satunya adalah Yogya. Para petani membeli
pupuk kandang tersebut dalam satuan truk, satu truknya berharga kurang lebih Rp
1.500.000,-. Untuk pupuk kimia, para petani menggunakan set A, TSP, mes,dan
urea.
Di
bulan pertama, mereka mulai menanam bibit tembakau. Masyarakat setempat sengaja
tidak membeli bibit tersebut, melainkan mereka memproduksinya sendiri dari biji
bunga tembakau. Hal ini dilakukan untuk menghemat biaya produksi. Coba saja,
jika mereka membeli bibit tersebut, yang harganya Rp 60,- per bijinya, maka mereka
harus mengleuarkan modal sekitar Rp 240.000,- per hektarnya. Setelah itu,
mereka hanya menunggu hingga massa panen, yaitu jika daun tembakau mencapai 4
sampai 5 helai daun.
Belum
sampai pada waktu panen, para petani dirundung cobaan yang mengancam tembakau
yaitu hama. Hama yang hinggap pada tanaman tembakau ada beberapa macam. Seperti
hama yang menggerogoti akar yaitu gasir, dan hama yang menyerang sekaligus
menggerogoti daun tembakau, yaitu ulat dan merki. Apa boleh buat, para petani
harus membasmi hama tersebut demi keberlangsungan hasil panen, dengan cara
melakukan penyemprotan menggunakan insektisida dan pestisida. Para petani pun
harus mengeluarkan uang kembali.
Tibalah masa panen tembakau, para petani dengan senangnya menyambut masa
tesebut. Pada waktu memanen bagian tembakau yang di ambil adalah bagian
daunnya. Namun setelah panen, para petani harus mengolahnya kembali agar bisa
dijual. Tahap-tahapnya yaitu: dibawa ke rumah – diimbuh/disimpan sampai daun
tembakau matang (sekitar 4 sampai 7 malam) – dirajang kecil-kecil – dijemur
sampai kering (sekitar 2 hari). Setelah melakukan proses tersebut, baru para
petani dapat menjual tembakau pada tengkulak.
Harga tembakau yang berkualitas
bagus, diberi harga Rp 100-2oo ribu per kilonya. Jika berkualitas biasa-biasa
saja diberi harga Rp 50-75 ribu, kalau kualitasnya buruk diberi harga kurang
dari Rp 50 ribu. Para petani tidak bisa menawar harga yang telah ditetapkan
oleh tengkulak, karena para tengkulaklah yang memiliki modal. Jika mereka
menawar, para tengkulak tidak akan membeli tembakau mereka. Dibalik itu juga
terdapat sebuah kecurangan, ternyata para tengkulak nyatanya mengurangi harga
tembakau yang di tetapkan pabrik, bahkan bisa mencapai 30%.
Ketika
para petani telah mendapatkan hasil dari panen tembakau, mereka tidak
sepenuhnya dapat menikmati hasilnya. Karena hasil tersebut dibagi 2, setengah
untuk keperluan sehari-hari dan setengah lagi untuk modal bertanam sayuran
bulan depan.
PENDIDIKAN WARGA BANSARI
Mayoritas para petani tembakau, tidak bisa bersekolah hingga jenjang
kuliah. Umumnya, mereka hanya lulusan SD saja. Bahkan kenyataan ini juga,
dialami oleh anak anak mereka yang terpaksa putus sekolah karena faktor
ekonomi. Sungguh Ironi, dibalik
keindahan Bansari ada ketertinggalan masyarakatnya baik ekonomi maupun
pendidikan.
--------------------------------------------
Pasar
Bantengan
Pasti
kita semua tahu apa itu pasar. Tempat orang orang melakukan aktivitas
jual beli, tempat membeli dan menjual segala kebutuhan rumah, dari hal yang
sepele seperti, bawang, garam, cabe, wortel, hingga ayam, beras, panic, daging dan
lain lain. Wah….banyak sekali jika hrus dituliskan satu per satu, kita mau beli
ini, mau beli itu, pasti semuanya ada di pasar. Tak terkecuali dengan Pasar
Bantengan ini, semua bahan bahan pokok yang kita butuhkan semua terjejer rapi
di meja meja. Kita hanya tinggal memilih bahan bahan yang murah, segar dan yang
pasti terjamin aman dikonsumsi.
Maka dari itu, setiap harinya, Pasar Bantengan
selalu ramai dikunjungi, kususnya oleh para bu ibu rumah tangga. Namun ada saja
hari hari yang biasanya sepi, yakni ketika bahan bahan pokok makanan ataupun
sebagainya anjlog tinggi harganya dari harga standarnya. Tapi walaupun begitu
tetap ada saja pembeli yang ingin membeli walau tak sebanyak biasanya. Yup,
walau bagaimanapun pasar masih menjadi andalan warga sekitar untuk membeli
segala kebutuhan.
Namun
di sisi lain, ada hal yang membuat problematika masyarakat. Memang, lokasi
Pasar Bantengan cukup strategis, yakni di pinggir sepanjang jalan, yang hal itu
bisa memudahkan masyarakat yang memakai kendaraan, bisa membeli kebuhannya
ketika sedang berperjalanan. Namun karena lokasinya yang berada di pinggir
jalanlah yang membuat pembeli pejalan
kaki terlibat dengan motor motor ataupun mobil mobil. Bolak balik harus
menyebrang untuk mendapatkan kebutuhan yang diinginkan, jadi rumit juga yaa…
Belum lagi jalan yang dilalui berbagai macam kendaraan itu terbilang sempit,
jadi sering membuat kemacetan untuk menyebrang.
Selain
itu, kondisi pasar yang berada dipinggir jalan membuat sayuran, buah buahan dan
bahan makanan lainnya tercemar oleh polusi udara dari berbagai macam kendaraan
apalagi motor.. Kondisi ini pula yang memperparah makanan itu, jika hingga
sampai ke mulut kita..Ih mengeikan…