Rumahku Kota
Mati
Di siang yang redup, hentakkan kakiku terus mendorongku tuk mencari cari laundry yang buka. Jejakanku terkadang tersendat kala abu tebal ataupun kubangan air menjebakku. Kulihat di sekelilingku Nampak seperti kota mati. Abu berserakan dimana mana, hingga rumah, mobil, dan semua barang yang ada di jalan tertutupi oleh abu. Aku terus menelusuri jalanan aspal, mencari dan mencari tempat laundry yang buka. Aku sempat kesal, karena semua tempat laundry yang kujumpai ternyata tutup. Sesekali, aku juga semakin kesal karena angin yang datang menyeok abu, aku pun sesekali kekelipan karenanya…
Siang
ini, tak lebih parah dari pada tadi pagi. Karena tepat setelah aku terbangun
dari tidurku, kira kira jam 4 pagi, temanku keluar rumah dan tiba tiba tas yang
ia bawa terkena percikkan dan rintikkan abu. Setelah itu, Ummi Aeni keluar dari
kamarnya, ia menjelaskan bahwa kejadian tadi menggambarkan suatu kejadian
fenomena alam yaitu hujan abu dari letusan Gunung Kelud di Kediri. Aku pun
terkaget kaget mendengarnya dan langsung bersegera mengambil slayer dan
langsung menuju sekolah.
Ketika aku mulai mengikatkan slayer ke hidungku, seketika aku merasa nafasku kurang enak dan slayernya pun berbau aneh. Ini mungkin terjadi, karena aku tak terbiasa memakai slayer. Aku pun melepaskan slayer dari ikatannya dan menyimpannya di saku kecil jilbabku. Aku berjalan kembali sambil menutupi hidungku dengan kerudung. Namun sesekali aku sering membukanya kembali.
Ketika aku mulai mengikatkan slayer ke hidungku, seketika aku merasa nafasku kurang enak dan slayernya pun berbau aneh. Ini mungkin terjadi, karena aku tak terbiasa memakai slayer. Aku pun melepaskan slayer dari ikatannya dan menyimpannya di saku kecil jilbabku. Aku berjalan kembali sambil menutupi hidungku dengan kerudung. Namun sesekali aku sering membukanya kembali.
Tak
berapa lama, satu persatu langkahku telah menyampaikanku pada tempat tujuanku,
yaitu sekolah. Nampak teras depan sekolahku sedikit ditutupi abu. Aku pun
segera melepaskan sandal yang melekat di kakiku dan seketika aku pun langsung
masuk ke sekolahku untuk sholat shubuh. Aku merasa tak nyaman saat itu dengan
kaus kakiku, lalu aku mengangkat kaki danmelihatnya, ternyata kaus kaki yang
asalnya berwarna hitam berubah menjadi warna putih.
Dendang
suara iqomat pun terdengar, aku pun langsung merapikan barisanku dengan orang
disampingku. Setelah usai sholat, Abah Yoyok pun langsung membuka forum
pengumuman. Di dalam forum itu, Abah memberi pengumuman bahwa kelas 7 dan 8
diberi tugas pagi ini untuk mencari abu. Nantinya abu ini akan digunakan untuk
percobaan. Kami pun bergegas keluar. Ternyata, di luar sana, hujan abu turun
lumayan deras, tapi semangat yang terus membara di diri kami, mengalahkan
kekhawatiran dan resiko itu. Kami pun mengambil abu abu, baik yang ada di daun,
ataupun di jalanan aspal. Hujan kian turun deras dan Abah memerintahkan untuk
mengakhiri pekerjaan tersebut dan menyuruh kami pulang. Sebelum itu, kami ke
sekolah terlebih dahulu untuk mengambil tas. Kegiatan mengumpulkan abu,
melelahkan dan membuat jilbab dan kerudung sekaligus tas menjadi kotor karena
abu. Ditambah lagi, cucianku yang menumpuk, lalu rumah yang ketutupan abu,
membuat aku susah untuk mencuci, jadi aku memutuskan untuk laundry.
Aku
melihat ke jam, ternyata sudah jam 8 pagi, tapi matahari tak kunjung dating.
Sehingga pagi ini terasa seperti jam 6 pagi. Aku pun buru buru masak, karena
takut akan terlambat masuk sekolah. Di tengah kekhawatiran belum makan dan
mandi, Abah member tahu bahwa hari ini libur. Kami pun teriak senang
kegirangan. Rumahku memiliki sebuah ruang pembatas yang itu tak ada atapnya.
Abu pun masuk ke kamar lagi. Ruang ini juga kami gunakan untuk pergi ke tempat
satu dengan lainnya, setiap kami melewatinya, abu mengenai rambut kami dan itu
membuat rambut kami keras seperti sapu ijuk. Hujan abu pun reda, dan turunlah
hujan seperti biasanya, namun tetap saja, hujan ini bercampur dengan abu. Belum
lagi, abu yang berserakan itu pasti akan menjadi lumpur lumpur yang lembek
ketika turun hujan. Namun sekiranya, ini lebih baik dari tadi pagi.
----------------------------------------------
EKONOMI MASYARAKAT SUROLOYO
Suroloyo adalah sebuah perbukitan tinggi di wilayah Kulonprogo, Yogyakarta. Dengan ketinggian 1050 mdpl juga iklim pegunungan tropis menjadikan Suroloyo sebagai lahan berbagai tanaman, terutama tanaman yang cocok hidup di iklim dingin ini, seperti teh, kopi, cengkeh dan kopi. Maka otomatis, dengan sumber daya alam yang melimpah, masyarakat sekitar pegunungan Suroloyo memanfaatkannya sebagai salah satu industry yang menghasilkan nilai harga jual yang tinggi.
Pemanfaatan sumber daya alam Suroloyo ini jumlahnya banyak, seperti: pembuatan minyak atsiri, pembuatan kopi suroloyo, pembuatan teh suroloyo, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, santri putri Taruna Panatagama pada tanggal 17-18 September 2014 mengunjungi industri industri tersebut:
1. Industri Kopi Suroloyo
Sejak tahun 2000, Pak Windarso
beserta keluarganya telah mengenali kopi Suroloyo, Mereka menggunakan cara yang
tradisional agar dapat menikmati kopi Suroloyo, yaitu dengan memasaknya memakai
wajan. Setelah sekian lama mengamati pola kerja petani kopi Suroloyo, Pak
Windarso dengan teman temannya merasa petani kopi Suroloyo tidak dihargai.
Harga jual kopi Suroloyo yang khas itu hanya bernilai Rp.20.000 saja per
kilonya.
![]() |
| kopi suroloyo |
Maka di tahun 2009,
petani petani yang melakukan usaha secara individu bergabung bersama Pak
Windarso dan teman temannya menjadi sebuah kelompok, yaitu kelompok tani. Masyarakat Kulonprogo sekitar bukit Suroloyo
umumnya memiliki pohon kopi. Dengan lahan yang mereka miliki setiap anggotanya,
mereka mulai menjalani usaha kopi Suroloyo. Lahan tersebut mereka gunakan
sebagai modal pertama, lalu mereka olah sendiri dan jual sendiri. Lalu
keuntungan dari penjualan kopi mereka gunakan kembali untuk modal selanjutnya.
Dan di tahun 2011, mereka mengajukan proposal kepada pemerintah dengan
beratasnamakan kelompok tani. Dan akhirnya pemerintah memberi sejumlah alat.
Kopi Suroloyo memiliki 2 jenis, yaitu robusta dan arabika. Arabika lebih banyak diminati karena keasamannya yang lebih rendah dan kafeinnya yang rendah membuat penikmatnya terasa lebih fresh karena tidak membuat rasa kantuk. Sedangkan robusta memiliki rasa yang lebih pahit dan sama sama mengurangi rasa kantuk. Tanaman kopi Suroloyo juga dipanen 1 kali 1 tahun selama 3 bulan.
Pak Windarso bersama ketujuh temannya menggunakan biji kopi pilihan, yaitu berwarna merah yang mereka beli Rp.4500 per kilonya dari petani kopi. Namun, seringkali mereka mendapatkan biji kopi yang hijau, karena petani yang kepepet ingin segera mendapatkan uang.
Setelah mendapatkan kopi, dimulailah
proses proses pembuatan kopi bubuk Suroloyo. Kopi yang memiliki 3 lapisan,
yaitu kulit ceri, kulit cangakang dan kulit ari lalu baru dagingnya,
dihilangkan kulit cerinya menggunakan alat giling. Setelah itu, biji kopi
direndam selam 12 jam dan setiap 3 jam sekali
air diganti. Tujuan dari perendaman ini adalah mengurangi keasaman dari
kopi tersebut. Perendaman dilanjutkan dengan penjemuran di bawah sinar matahari
selama 5 hari.
Setelah kering, biji kopi diimbuh selam 2 bulan. Tujuannya
adalah menstabilisasi dan menetralisir khasiat kopi tersebut. Lalu, biji kopi
tersebut digiling kembali untuk menghilangkan kulit cangkang dan kulit arinya..
Pemprosesan pun dilanjutkan dengan memilah kopi yang bagus dan yang tidak bagus
karena cacat.


