Kisah Seorang
Pedagang Tangguh
Diantara
banyaknya pedagang yang berjajar di Pasar Bantengan, ada hal yang unik
sekaligus menginspirasi dari pedagang yang satu ini. Pengalaman merupakan
senjata ampuhnya untuk mencari nafkah, sekaligus menjadi pelajaran tambahan
baginya untuk melangkah terus mencapai kesuksesan. Ia adalah seorang bapak
bapak yang bernama Bapak Nurwiyanto yang berasal dari Berbah,Sleman. Kini
usianya sudah menginjak 43 tahun. Dan hampir setengah hidupnya ia gunakan untuk
berdagang. Namun, hingga kini ia belum mampu bersaing di kelas tinggi.
Profesinya kini hanyalah seorang pedagang pinggir jalan yang hanya mampu berdoa
agar kelak iamampu menggapai kesuksesan. Namun tak apalah, jalani sajalah hidup
ini dengan ikhlas, biar Allah yang membalasnya kelak.
Kini, hidupnya hanya bergantung pada penjualan sayurnya. Apabila ramai, kebutuhannya pun bisa tercukupi. Namun jika sepi, ia pun harus memutar balik keuangannya. Sebelum menjadi pedagang sayur pinggir jalan, ia sempat mengalami bangkrut. Ketika itu, ia hanyalah seorang penjual krupuk dan kripik yang hanya mengambil sedikit sekali keuntungan. Karena keuntungan dari hasil menjual kripik dan krupuk sangatlah sedikit, ia pun kebingungan untuk menafkahi keluarganya. Akhirnya, ia pun mengadu nasib di Pasar Bantengan ini sejak umur 25 tahun, dan hingga hari ini. Setelah berada di Pasar Baantengan ini, ia dan keluarganya pun bisa mengandalkan berjualan sayur sebagai mata pencahariannya sehari hari.
Kini, hidupnya hanya bergantung pada penjualan sayurnya. Apabila ramai, kebutuhannya pun bisa tercukupi. Namun jika sepi, ia pun harus memutar balik keuangannya. Sebelum menjadi pedagang sayur pinggir jalan, ia sempat mengalami bangkrut. Ketika itu, ia hanyalah seorang penjual krupuk dan kripik yang hanya mengambil sedikit sekali keuntungan. Karena keuntungan dari hasil menjual kripik dan krupuk sangatlah sedikit, ia pun kebingungan untuk menafkahi keluarganya. Akhirnya, ia pun mengadu nasib di Pasar Bantengan ini sejak umur 25 tahun, dan hingga hari ini. Setelah berada di Pasar Baantengan ini, ia dan keluarganya pun bisa mengandalkan berjualan sayur sebagai mata pencahariannya sehari hari.
Memang
mudah berjualan itu jika lokasinya bisa ditempuh dengan cepat. Namun ia harus
pergi pagi pagi ke pasar karena jarak yang cukup jauh. Belum lagi ia pun harus
membeli barang yang akan dijualnya. Mungkin, sejak tadi malam ia tidak tidur
karena harus membeli barang belanjaan.
Sungguh,
ia terlihat ceria ketika kutemui. Hampir tak ada rasa penat sedikitpun yang
tampak padanya. Bahkan tak ada rasa capek pun yang tersirat dalam dirinya.
Waaw..benar benar seorang pedagang tangguh!!!
-------------------------------------------
Meraih
Ridha dan Surga-Nya
Dengan perlahan, aku pun meniti
langkahku ke masjid. Ternyata, hanya 3 langkah saja.. Aku pun dengan temanku
Miftah langsung mendendangkan salah satu lirik lagu “Lima langkah..dari
rumah…” Namun liriknya sengaja kami ganti menjadi “Tiga langkah…dari rumah..”
begitu mendapatkan hasil fantastis pengamatan mii kami ‘mengukur langkah dari
rumah kami menujui masjid Al Muttaqin’. Sontak aku pun teringat akan nenek
bungkuk yang dengan kekurangannya dan rumahnya yang mungkin lebih jauh berpuluh
puluh kali lipat dari rumah kami..
Di shubuh yang tentram, dengan
ngantuknya aku pun terkulai lemah menapakkan kakiku terus menerus ke masjid.
Mendekati iqoat dikumandangkan, nenek itu masuk ke area shaf wanita dengan
lemahnya, namun tetap menampakkan wajah semangat. Di sudut matanya, tak ada
sedikitpun guratan mengantuk dan lelah..
Berpakaikan sehelai kebaya lusuh dan rok jarik, dengan ditutupi oleh sehelai mukena sambung butut kusam dan sehelai sejadah beralaskan wara merah, ia pun masih mau melaksanakan sholat di Masjid tanpa malu mendengar komentar dan tatapan jijik orang lain terhadapnya. Begitu datang, ia gelarkan sejadah merah itu dan melepaskan gulungan mukena yang sebelumnya digulung ketika menuju masjid. Tanpa basa basi, dengan gerakan duduk, ia pun langsung menggemakan takbir shalat rawatib dalam hatinya.
Berpakaikan sehelai kebaya lusuh dan rok jarik, dengan ditutupi oleh sehelai mukena sambung butut kusam dan sehelai sejadah beralaskan wara merah, ia pun masih mau melaksanakan sholat di Masjid tanpa malu mendengar komentar dan tatapan jijik orang lain terhadapnya. Begitu datang, ia gelarkan sejadah merah itu dan melepaskan gulungan mukena yang sebelumnya digulung ketika menuju masjid. Tanpa basa basi, dengan gerakan duduk, ia pun langsung menggemakan takbir shalat rawatib dalam hatinya.
Iqomat pun dikumandangkan dengan
merdunya.. Nenek yang berparas bungkuk itu tetap melanjutkan sholat rawatib di
shaf kedua itu dengan khusuknya tanpa ada guratan kecemasan di wajahnya.
Setelah usai mengerjakan sholat sunnah tersebut, ia tertatih berjalan ke shaf
pertama. Nenek tersebut menggelarkansejadhnya kembali ke arah samping, ternyata
akulah orang di samping nenek itu yang mendapat jatah sejadahnya itu.
Gerakan sholat pun beraih ke ruku, imam pun menandainya dengan diberhentikannya bacaan surat., nenek tersebut jua mengikuti gerakan itu sama halnya dengan jamaah lainnya. Namun aku terkaget ketika mendengar suara ‘kreeek..’ yang tak lain bersumber dari nenek bungkuk. Dalam hatiku pun berkata ‘Apa mungkin tulang nenek patah???.. Dalam setiap gerakannya pun, nenek bungkuk adalah orang yang terakhir kali melakukan gerakan itu…,, pasti ia menyimpan beribu skit yang tertahankan….’
Gerakan sholat pun beraih ke ruku, imam pun menandainya dengan diberhentikannya bacaan surat., nenek tersebut jua mengikuti gerakan itu sama halnya dengan jamaah lainnya. Namun aku terkaget ketika mendengar suara ‘kreeek..’ yang tak lain bersumber dari nenek bungkuk. Dalam hatiku pun berkata ‘Apa mungkin tulang nenek patah???.. Dalam setiap gerakannya pun, nenek bungkuk adalah orang yang terakhir kali melakukan gerakan itu…,, pasti ia menyimpan beribu skit yang tertahankan….’
Usai berdzikir dan berdoa, Masjid Al
Muttaqin rutin mengadakan tausiyah singkat… Dihari awal awal, aku melihat nenek
ini, ia selalu rajin mendengarkannya, namun akhir akhir ini entah mengapanenek
ini selalu pulang lebih awal, padahal pengajian tausiyah belum usai. Dengan
langkah yang terbata bata, ia pun pergi menuju rumahnya.. Karena tidak tega,
ibu ibu dan bapak bapak yang berada di belakangnya enggan menyusul nenek itu
dan tetap mengikuti langkahnya hingga di pntu luar.
Suatu malam, sehabis berbelanja
cobek, aku melintasi jalnan dekat pasar yang biasanya pedagang tersebut ada
anjing yang sering menggonggong. Aku yang ketika itu berjalan bersama kakak
kelasku Kak Fani menyampaikan rasa takut aku.. Namun ia malah menceritakan
keberanian nenek bungkuk yang ternyata tempat tinggalnyaberada di gang itu. Aku
pun merasa mengaku kalah dari nenek bungkuk itu.. Rumahnya terbilang
memprihatinkan, terlihat tidak terurus dan jaraknya jauh dari Al Muttaqin bila
ditempuh dengan jalan kaki, yah kira kira membutuhkan waktu 10 menit.
Perlakuan nenek tersebut membuatku
malu dan menyadarkanku betapa banyak orang yang memiliki banyak kekurangan dan
justru dengan kekurangan itu membuatnya semakin termotivasi untuk melakukan
amal ibadah dan banyak bersyukur kepada Allah, seperti halnya nenek bungkuk
itu.. Dengan segala kekurangan dan semangat melaksanakan ibadah yang tinggi,
semoga bisa menghantarkan nenek bunkuk pada Surga-Nya dan Ridho-Nya.. Sungguh
nenek tersebut telah melaksanakan perintah Allah yang dikutip dalam surat Al
Imram ayat 133.
‘Dan bersegeralah kamu mencari
ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi
yang disediakan bagi orang orang yang bertaqwa..’
KING CASINO 100% RATES - CommunityKaHaar
BalasHapusKING CASINO 100% 메리트 카지노 쿠폰 RATES. See the official KING CASINO RESORT Facebook page and post your photos for fun at the home matchpoint for 더킹카지노